Tetesan Embun...

No Comments
Bicara mengenai nilai memang takkan ada habisnya. Entah nilai yang diciptakan tiap orang, nilai dari banyak orang atau memang nilai yang berasal dari sumbernya itu sendiri.
Terkadang pemahaman dan sejauh mana nilai itu dipegang menjadi penilaian subjektif.
Hal lain yang kadang menjadi perhatian tersendiri ketika kebanyakan seolah menjadi hakim yang berhak menjustifikasi atas ketidaksesuaian nilai yang dipahami. Mereka kadang tak semuanya memahami posisi mereka sebagai manusia. Mungkin masih pada tahap menjadi rumput yang siap di makan oleh rusa.
Seandainya engkau seorang diri dimana engkau berjalan dimalam hari ditengah hutan dan engkau belum tahu arah yang hendak kau tuju.
Pasti adakalanya engkau mencoba dan menerka-nerka jalan keluar dari hutan belantara tersebut.
Namun saat ditengah jalan dan jalan yang engkau pilih membuat mu tertusuk duri, lalu duri itu menancap di tubuhmu. Baru engkau tahu bahwa jalan yang ada bukan jalan untuk pulang.
Satu hal yang pasti, engkau telah berani mencoba untuk melangkah, tentu langkah itu tak boleh berhenti sampai saat ini. Engkau harus menyelesaikan tugasmu saat ada di dunia ini, menjadi manusia seutuhnya.
Ambillah sedikit cerita kala seorang Khalifah Kedua Umar, sebelum ia tahu akan cahaya ia pernah mengubur anak perempuannya hidup-hidup. Sebuah drama paling tragis saat itu. Namun, kala Muhammad berkenan memberinya lilin yang memancarkan cahaya, perlahan ia bisa berjalan pada jalan yang sebenar-benarnya jalan.
Pada akhirnya perkenankanlah embun itu menetes pada daun agar daun mengerti betapa sejuk dan tenangnya tetesan dari embun. Sebelum sepenuhnya matahari memberi cahayanya, embun tak tahu pada daun mana ia harus menetes.
“Dunia hanyalah seperti cermin yang memantulkan kesempurnaan Cintanya. Wahai kawan! Mungkinkah ada sesuatu yang lebih besar dari keseluruhan?”
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 comments

Post a Comment