Secangkir kopi malam ini telah habis menerjang tenggorokan, darinya aku berusaha mengusir senyap dari malam yang begitu pekat. Jangankan bulan, bintangpun enggan untuk menyapa tempat ini. Aku lihat tak ada banyak tanda kehidupan, hanya tumpukan kardus bersusun yang ditinggal penghuninya. Dinginnya malam ditambah dengan angin yang seakan ingin menerkan apapun yang dilaluinya.

Sungguh aku ingin berdiri untuk malam ini, menjaga dalam keheningan malam. Pikiranku masih terbang bebas menabrak dinding-dinding penyekat. Untuk menjadi seorang manusia saja masih belum layak tersemat dalam diri. Arus yang begitu derasnya menyeret siapapun yang enggan untuk ikut atau pada yang tak punya pijakan dalam bertindak. Makna modernisasi telah diperkosa habis hingga hanya segelintir saja yang berhak mengklaimnya.

Kita telah paham bahwa dalam setiap jiwa ada tiga jenis kepemimpinan yang mengendalikan hidup. Kepemimpinan logika mengantar kita pada cara untuk memahami kebenaran, sedangkan kepemimpinan hati mengajarkan kita bahwa dunia tak hanya hitam atau putih. Namun mengajarkan tentang keindahan. Adapun kepemimpinan terakhir adalah kepemimpinan nafsu, yang dapat menyeret kita menuju derajat yang lebih rendah dari makhluk apapun.

Pernah aku diseret angin, mencoba untuk melawannya meski harus jatuh terbentur. Ada banyak tanya yang harus kutemukan jawabnya. Mungkinkah aku mampu membunuh kosong ini, ataukah memang aku hanya ada dalam imaji kekosongan. Penciptaan logika dan rasa menjadi pelengkap paripurna dalam setiap insan. Kala keduanya tidak sanggup berinterferensi, akan ada salah satu yang ingin menjadi pemenang. Apakah logika yang menuntun rasa atau rasa yang akan membunuh logika dan pola pikir kita. 

Sungguh berat saat aku harus bergantung pada ranting semu. Menjaga apa yang telah dibawa dan memastikannya utuh hingga diujung waktu. Sekarang dan selamanya, aku hanya ingin mencumbu logika agar didalamnya aku tak kehilangan makna.


Lower Silesia

Read More
Discussion about halal industries is not only concern materials which sent to a consumer, but also every process that involved. In nowadays, consumers have awareness of integrity or authority in Halal Supply Chain.  In this study pointed halal certification, halal standard, halal traceability, halal dedicated assets and role of the government in enhancing integrity in current complex food trade.

Background
Products of halal growth dramatically and take special attention. The percentages in this field reach over 16% and still increasing in following decades. Moreover, Halal products don’t represent to satisfy Muslim market but the non-Muslim have also this demand for this particular food product due to the perception of halal food which has characteristics; clean, hygiene and tasty. The big question is how to ensure the products halal considering halal products originated from all the part of the world. There is a fact that most of the Halal food products from non-Muslim countries (Argentina, Brazil, Canada, France). It causes the distrust from Muslim Consumers, especially to The authenticity and integrity.

In the Halal food chain involved a process to manage from raw material (origin of goods) to end shipping point (consumers). The purpose of a Halal food chain is not only to satisfy customer needs but also to ensure that Halal status of the food keeps secure from interaction with others material (Haram Products).  Academic publication discussing Halal Food Chain and Halal Integrity still limited. Most of the publications focused on customer behaviours. This research aim to investigates what is the factor that influence for enhancing the integrity of Halal Food Chain.

Halal Integrity
Halal integrity can be seen as a key that has an impact in developing Halal Food Chain in the complex trade and competitive business. Standardization extremely needed to give a trust perception to consumers through certification of Halal Product. All of the stakeholders must have the same perception and understand their responsibilities. It cannot be separated with others. There are several factors for Halal Food Chain Integrity:

  • Halal Certification
Halal-certified product is the strong reason for Muslim Consumers to buy the products. Certification has a meaning that the products comply with Sharia principle. Due the fact that in some countries there are several authorities which issued halal certificate (In Indonesia known as Indonesia Ulema Council).
  • Halal Standards
Increasing of demand Halal food products are not in line to standardization Halal products. Multiple authorities and differences perception caused standardization of products. 
  • Halal Traceability

In Halal food industries, Halal Traceability means that consumers are able to trace which products have certification from authority and the status of products. 

  • Halal dedicated assets
In the distribution process sometimes be found that halal products jog with non-Halal products, due to the vehicles or physical tools that used. In addition, the complex trade in nowadays tend to make it has same scenario to deliver the products. It can cause the Halal Products will lost its status. 
  • Trust and  Commitment

In this term has a meaning if both of customers and sellers have same perception to understand how to treat halal products. To make it running well, be required commitment from all stakeholders and willingness to provide dedicated assets to deliver the products and implement halal certification in the business process instead raw material/ingredients required by consumers.


Conclusion
Halal integrity is very fundamental in Halal Food Industry. Protective and preventive should be considered in every step that involved in the supply chain process from source point to end point. This paper initially focuses on a conceptual framework of factors enhancing the integrity of halal food supply chain. Further research can be more deeply finding relationship factors that stated in this research to make it easy to understand.

Origin Journal

Zulfakar, M. H., Anuar, M. M., & Talib, M. S. A. (2014). Conceptual Framework on Halal Food Supply Chain Integrity Enhancement. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 121, 58–67. http://doi.org/10.1016/j.sbspro.2014.01.1108
Read More
"Embun tidak pernah memilih pada daun mana ia akan jatuh, begitu juga dengan anak manusia, ia tak punya kuasa pada hati yang mana ia akan bersandar"
Sudah lama aku merindukan hadirnya senja, kulihat kala matahari berayun untuk menyinari belahan dunia yang lainnya. Adakalanya tidak semua daerah diatas bumi ini memiliki kesempatan untuk mendapatkan sinar matahari yang cukup. Beruntunglah engkau yang memiliki kesempatan untuk melihat saat sang surya menyingsing dan kemudian pergi untuk sesaat hingga kembali esoknya.  

Begitupun dengan engkau, tidak semua yang engkau ingini dapat terwujud untuk saat ini. Ada beberapa yang masih menunggu atau yang telah melangkah untuk memulai lembaran cerita kalian. Di sisi yang lain masih ada di antara kita yang harus berpisah karena memang adanya pilihan yang harus dibuat. Jika engkau masih menunggu, cobalah untuk memandangi cakrawala dunia dengan perspektif yang berbeda. 


"Jika engkau tak menemukan cintamu di bumi carilah ia di langit" (Malaikatpun Jatuh Cinta)
Ya, itulah pilihan terbaik yang dapat engkau lakukan. Engkau bisa memulai dengan mengetuk pintu langit agar yang memiliki cinta berkenan menitipkannya padamu. Dan tentunya, engkau memiliki kewajiban untuk menjaganya sesuai dengan apa yang telah dituntunkan padamu.  Jangan pernah bosan untuk mengetuk pintu langit nan maha luas. Lebih mudah bagi engkau untuk mengetuk pintu langit dibanding pintu hati seseorang.

Bagi kalian yang telah memulai mengembangkan layar untuk mengarungi samudera nan luas ini. Semoga kalian mengikuti arah atau petunjuk yang telah diberikan pada kita semua. Jika ada masalah dalam perjalanan, anggaplah ombak atau riak-riak kecil yang akan menambah kekuatan untuk mengarungi perjalanan yang amat panjang. Dan teruslah ingat jika kalian telah memulai perjalanan itu, berarti kalian telah berusaha untuk menyempurnakan hidup agar menjadi manusia yang paripurna.
Read More
Jika kita melihat berbagai fenomena yang ada di Bumi ini tentulah dengan mudahnya kita akan temukan bahwa kesemuanya ada sebab dan akibatnya. Selain itu kesemuanya saling berpasangan. Kodrat yang di turunkan Allah memang menciptakan manusia yang saling berpasang-pasangan. Dalam perjalanan pencarian tentulah sebagai manusia memiliki beberapa kriteria atau panduan yang menjadi cara ia mencari pelengkap hidupnya. 
Adapun dalam pandangan saya pribadi saya sendiri, perjanjian yang diucapkan oleh dua anak manusia memiliki konsekuensi yang sangat agung. Bahkan arsy ikut bergetar saat terjadi perpindahan wewenang dari seorang ayah ke suami. Hal ini mengindikasikan jika semua perilaku, ucapan seorang istri merupakan tanggung jawab seorang suami untuk menjaganya. 

Jika bisa diturunkan secara lebih detail aku mempreferensikan jika seorang wanita harus memiliki pandangan yang jelas terhadap difinisi materi, bagaimana ia memandang materi dan juga posisi dirinya terhadap materi itu sendiri. Selain itu ia harus memiliki pandangan ke depan bagaimana ia akan mendidik anak-anaknya. Visi yang besar menjadikan ia memiliki perilaku yang tentunya berbeda.

Dalam proses pencarian cukuplah kita bergantung pada yang memiliki cinta. Imam Al-Ghazali pernah berpesan yang berbunyi Ya Allah, jika aku jatuh hati, izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu, agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu. 




Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home