Seberapapun aku jauh untuk pergi. Ada waktu ya aku rindu akan semua yang ada di dalam rumah. Rumah menjadi tempat bagiku untuk berdiskusi, mengeluarkan pendapat dan berbagi gagasan akan segala hal. 

Aku Ingat bagaimana ayah memberi pendidikan akan hukum, politik dan sistem tata negara. Ayah selalu menekankan bahwa orang dihargai karena kapasitas keilmuannya. Jangan terpukau akan materi yang ada pada orang lain. Lihat terlebih dahulu apakah mereka orang yang berilmu atau tidak, terlebih jika mereka memperoleh materi dengan cara-cara yang tak dibenarkan. Jangan pernah taruh simpati sedikitpun. Idealisme itu yang coba aku bawa hingga saat ini.

Selain itu aku sangat merindukan diskusi di meja makan tentang hal lain akan hidup. Seringkali aku harus berdebat karena perbedaan pandangan. Kebebasan yang diberikan padaku untuk berpikir dan mengembangkan argumentasiku sangatlah di hargai di rumah kecil ini. 

Sedangkan dalam hal penanaman nilai, ibu menjadi orang yang selalu mengajari ku akan nilai-nilai luhur. Ibu selalu memberikan contoh disekeliling agar aku mudah mencerna apa yang disampaikan. 


Mungkin saja untuk saat ini, aku belum bisa untuk kembali merasakan keadaan itu. Jarak dan waktu tidak sepenuhnya memungkinkan untuk mengulang memori yang pernah ada di rumah sederhana kami. Ingin rasanya segera menyelesaikan apa yang ada di depanku saat ini dan segera kembali ke rumah kecilku. 
Read More
Sebuah renungan bagi diriku sendiri. Ada kalanya aku merasa bahwa segala ambisi ataupun keinginan untuk mengejar sebuah materi berakhir dengan hal yang diluar perkiraan. Pernahkan kita berpikir, seberapa banyak usaha yang telah dilakukan untuk mengejar sebuah eksistensi, penilaian dari orang lain ataupun usaha kita mencari apa yang nampak.

Pernah kita jumpai, orang yang dengan teganya melucuti derajat kemanusiaan saudaranya sendiri. Melakukannya tidak lain untuk mengangkat dirinya agar lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain.  Jika bisa digambarkan dengan lebih jelas, sifat ke-akuan lebih menonjol dibantingkan dengan kita. Selalu membandungkan aku dan kamu, dengan parameter penilaian berupa pencapaian orang lain yang melebihi dari diri sendiri.

Perlu kesadaran yang menyeluruh bagaimana seharusnya kita bertindak dan bersikap atas apa yang ada disekitar kita. Memperhitungkan bahwa semua yang dilakukan terdapat konsekuensi hukum dikemudian hari. Akan ada kalkulasi menyeluruh dari apa yang telah kita upayakan di sebuah perjalanan yang mungkin cukup melelahkan ini.


Read More
Depan pałac kultury i nauki 
Setelah harus berpuasa dengan durasi yang cukup lama sekitar 18 jam. Akhirnya tiba waktunya untuk merayakan hari kemenangan. Tidak seperti di Indonesia dimana perayaan begitu ramai dan semarak. Disini hari lebaran tak ubahnya seperti hari biasa. Aku memilih untuk merayakan lebaran di Warsaw. Selain ada undangan dari KBRI untuk seluruh mahasiswa Indonesia, tentunya adanya opor ayam menjadi motivasi tersendiri. Sebelum menyantap opor ayam beserta makanan lainnya, tentunya kita harus sholat dulu. Jarak dari pusat kota menuju masjid bisa ditempuh sekitar 20 menit. Dan inilah ekspresi kami saat mau makan opor ayam.
Mengejar Opor


Seperangkat Opor dkk
Setelah selesai makan opor ayam, aku akhirnya sempat bertemu dengan adik tingkaku yag berhasil memperoleh medali emas di acara International Invention and Innovation. Akupun mengantar mereka ke stasiun bus untuk melanjutkan perjalanan mengelelingi beberapa kota di Eropa Timur, sebelum kembali lagi ke Indonesia. Dan yang tak lupa adalah ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk rekan-rekan PPI Polandia atas kesediaannya membantu menjemput dan mengarahkan setiap mahasiswa yang akan datang ke negeri putih merah ini. Salam Perhimpunan!!!
Bersama Mahasiswa UII




Read More
Sudah empat bulan aku tidak memulai lagi untuk menulis. Serasa kaku jemariku untuk merangkai satu atau dua kata. Selama empat bulan lalu aku memilih untuk fokus menyelesaikan kelas bahasa. Mempelajari salah satu bahasa tersulit di dunia, membuatku harus menyisihkan waktu lebih banyak agar dapat menguasainya. Bagian yang tersulit bagiku adalah grammar, dimana perubahan dari satu kata bisa mempunyai lebih dari 20 bentuk.

Hingga pada bulan Juni akhirnya tiba waktu ujian akhir. Pada awalnya aku sempat berpikir apakah aku bisa melewati ujian ini. Ternyata prasangkaku terbukti adanya, dimana aku harus mengulang untuk ujian speaking. Cara pengucapanku yang kurang baik menjadikan penguji mengalami kebingungan tentang apa yang aku ucapkan. Akhirnya pada ujian kedua aku bisa menyelesaikan dengan hasil yang cukup.

Dan diakhir ujian ditutup dengan jalan-jalan untuk sekedar melihat sungai di pinggir kota.


Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home