Aku melihat postingan terakhir dimana hampir setahun aku tidak pernah lagi menulis melalui laman pribadi ini. Ada beberapa alasan dikarenakan biaya sewa alamat yang membuat aku memilih untuk tidak melanjutkan untuk beberapa saat. Serta aku merasa ada platform lain yang bisa aku gunakan.  Tulisan kali ini mungkin bisa dikatakan berupa refleksi atas apa saja yang telah berlalu di tahun 2018.

Di awal 2018, aku masih berkutat denga kegiatan perkuliahan yang memasuki tahun pertama dimana semester pertama dapat dilalui dengan hasil yang cukup baik. Selain diperkuliahan, aku juga ikut dalam organisasi kemahasiswaan (PPI) dimana aku memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan suksesi kepemimpinan selanjutnya. Meski dalam perjalanannya tidak mudah karena adanya berbagai kendala internal, namun pada akhirnya kepengurusan kali ini bisa berjalan dengan lancar.
Bersama Pengurus Yang Tersisa
Hal lain yang membuat aku banyak belajar adalah bagaimana susahnya mengurus ijin tinggal (karta pobytu) di Polandia. Aku harus menunggu hampir setahun dimana hampir tiap minggu aku harus datang ke kantor catatan sipil untuk memantau perkembangan status aplikasiku. Disini aku harus mengantri bersama dengan orang dari negara lain. Masih aku ingat bagaimana harus bangun pagi buta untuk berebut antrian dan dalam kondisi suhu dibawah 0 derajat.
Uyel-uyelan
Di tahun ini juga aku menjalani puasa di tahun kedua aku tinggal disini. Durasi yang lebih panjang menjadi tantangan bagiku. Perkuliahan tetap berjalan seperti biasa yang membedakan adalah aku harus menunggu hinggal jam 9 malam untuk menanti waktu berbuka. Perkuliahanku tidak jarang hingga hari minggu, pernah juga aku harus ikut studi tour ke pabrik. Dan saat yang lain sedang makan siang, aku bersama rekanku memilih untuk duduk sembari beristirahat di tengah panas yang sangat terik. 

Saat kuliah disini, aku mendapat kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana proses suatu bisnis dari Amazon, salah satu e-commerce terbesar di dunia. Teknologi yang digunakan hingga sistem yang ada didalamnya membuat aku bisa mengerti apa yang sebenarnya terjadi. 
Gudang Amazon, Katowice

Pada musim panas tahun ini, aku juga bisa berkesempatan untuk pulang berlibur ke Indonesia. Meski hanya 2 bulan, namun setidaknya rasa kangenku dengan orang tua dapat terobati. Hingga menjelang berakhirnya liburan aku merasa berat untuk meninggalkan Indonesia dan harus kembali lagi disini untuk menyelesaikan studiku. Di waktu senggang, sebagai mahasiswa kita seringkali mengadakan acara berupa masak bersama untuk mengobati rasa rindu akan kuliner khas nusantara. 

Makan Rame-rame


Pada masa akhir penghujung tahun ini, terkadang aku merasa masih ada banyak hal yang belum bisa aku wujudkan sesuai dengan rencana. Adakalanya rencana yang telah disusun tidak bisa untuk direalisasikan karena ada berbagai pertimbangan. Mendengar lebih banyak bisa jadi menjadi cara terbaik untuk aku sebelum mengambil sebuah keputusan besar.  Akhir tahun ini semoga menjadi penutup atas berbagai hal yang mungkin belum bisa aku capai. Semoga saja tahun berikutnya ada hal yang lebih baik yang bisa diraih dan menjadi titik awalan setelah aku menyelesaikan studi ini. 

Aku juga berharap agar aku tidak menjadi pribadi yang bosan untuk terus mencari hal-hal baru dan belajar apapun. 

Lodz, Kota Tua




Read More
Merakit Lego
Cerita kali ini berasal dari kelas. Awalnya aku bersama temanku duduk berdua melihat anak-anak yang lain telah membentuk kelompok dengan anggota maksimal 5 orang. Hanya tersisa kami yang tidak mendapatkan bagian. Tiba-tiba ada temanku yang sebelumnya pernah bekerja kelompok denganku dan bertanya apakah dia diperkenankan untuk bergabung dengan kelompok ini, tentulah aku menjawab iya. Selang beberapa saat ada Anak lain yang juga akhirnya bergabung ke kelompokku karena sudah tidak ada pilihan lain. Spontan saja aku berbisik dengan rekanku jika akhirnya kita bisa mendapatkan kelompok dengan tidak terlalu susah. 

Kelaspun dimulai dengan dibagikan kertas yang berisi materi yang akan dipelajari hari ini. Pembelajaran untuk mata kuliah Organisation of Production System menggunakan metode problem based learning. Awalnya siswa diminta untuk membaca dan menghubungkan dengan pengetahuan sebelumnya yang pernah dipelajari. Kemudian kita akan diminta untuk menjelaskan apa yang telah dibaca ke rekan satu kelompok. 

Perasaan akward muncul saat kami belum saling kenal. Aku Coba untuk sekedar membuka komukasi saat rekanku dari Polandia bertanya mengapa kami berdua menggunakan jaket di dalam ruangan. Aku menjawab bahwa menurutku suhu saat ini dingin meski didalam ruangan. Percakapanpun berlanjut mengenai mengapa kami memilih untuk belajar di Polandia yang notabene sangat jauh dari negera kami berasal. 

Percakapanpun mengalir begitu saja khususnya saat berbicara mengenai kuliner. Kami mencoba untuk memperkenalkan kekayaan kuliner yang ada di Indonesia. Rendang dengan segala kelezatannya, soto ayam dengan tampilan yang menyegarkan. Suasanapun menjadi lebih hangat. Hingga aku mengerti bahwa lebih baik memulai untuk berkomunikasi dengan siapapun karena kita terkadang tidak tahu bagaimana serunya bisa berinteraksi dengan manusia. 



Read More
Seharian aku habiskan waktuku di kampus. Aku baru saja sampai ke dormitory tempat aku tinggal pukul setengah sembilan malam. Rasa lelah, Lapar tidak bisa ditunda lagi. Ku cari-cari makanan yang tersisa ternyata aku tak menemukan apapun. Rencananya setelah selesai kuliah aku berencana untuk pergi berbelanja. Namun apa mau dikata, waktu sudah terlalu larut. Hari itu aku merasa otakku dipaksa untuk berpikir dan baru kali ini aku sedang belajar. Sebelumnya aku berpikir jika belajar dapat dilakukan di dalam kelas, duduk manis mendengarkan apa yang disampaikan oleh dosen. Namun ternyata hal itu tidaklah demikian, belajar lebih pada proses dimana kita mencoba menghubungkan apa yang telah menjadi pengetahuan awal di kita lalu mengasosiasikannya dengan kondisi yang sedang kita amati. 

Seringkali masayarakat pada umumnya memiliki pandangan bahwa dengan memasukkan anaknya kesekolah, menganggap bahwa anaknya sedang belajar menuntut ilmu. Terlepas setelah selesai sekolah, ijazah yang digunakan untuk mencari pekerjaan. Dari tujuan awal dimana dengan bersekolah akan mempermudah mendapatkan materi (pekerjaan) membuat kita akan mengalami kebingungan dalam bertindak atau menjalani setiap proses. 

Padahal jika diperhatikan lebih lanjut, belajar sejatinya tidak mengenal ruang dan waktu. Para petani yang dipagi hari bergegas menuju ladangnya, menyiangi rumput di sekitar pematang, sejatinya mereka sedang belajar untuk menunggu tumbuhnya tanaman yang ditanam. Atau nelayan yang saat pergi melaut seringkali melihat tanda alam seperti bentuk rasi bintang, arah angin. Juga menunjukkan bahwa mereka juga sedang ada dalam proses untuk belajar. 

Belajar juga tidak boleh berhenti selama kita ada. Berhentinya kita untuk belajar sejatinya kita telah mematikan diri kita sendiri. Hingga seringkali kita mendengar ucapan “ada orang yang telah meninggalkan dunia namun karyanya masih ada hingga kini” atau “ada orang yang masih hidup tapi sejatinya ia telah mati”. Menjadi seorang pembelajar akan fokus pada menikmati setiap proses yang sedang dijalani. Ia akan memandang bahwa dengan belajarnya akan mampu memberi manfaat pada orang lain.  Maka dari itu, penting dari awal untuk menentukan apakah kita akan menjadi orang yang mencoba untuk terus belajar tanpa kenal lelah. Dengan begitu kita akan selalu merasa senang dengan segala proses yang sedang kita jalani. 
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home