Tiap insan yang hadir di muka bumi ini diberi kemampuan oleh Allah berupa software internal. Software ini adalah hati. Di dalamnya telah di program dengan kemampuannya untuk mengenali apa itu baik dan apa itu keburukan. Seiring berjalannya waktu, hati mudah sekali untuk dikotori oleh nafsu yang pada saat yang sama juga ada dalam diri seorang insan. Kita dapat memberikan gambaran jika hati layaknya sebuah cermin yang mana saat cermin itu bersih, ia akan dengan mudahnya memancarkan sebuah cahaya yang ia terima. Namun, hati juga bisa menjadi kotor sehingga cermin tersebut tidak bisa menerima maupun memancarkan sebuah cahaya.

Pada kondisi dimana hati tak sepenuhnya mampu menerima cahaya maka pada saat itulah tugas sesama insan untuk saling mengingatkan. Karena terkadang kita tidak bisa melihat kekurangan yang kita miliki. Namun ada satu hal yang tidak semua orang diberi kesempatan untuk memperolehnya yaitu petunjuk dari Allah. Jika Allah telah berkehendak, maka tidak ada yang bisa menghalangi kehendak-Nya. Ia bisa membuka pintu hati pada siapapun yang Allah inginkan. Saat cahaya-Nya telah masuk kedalam relung jiwa, maka pada saat itu kesadaran sebagai insan kamil muncul.

Aku memiliki sekelumit cerita dimana aku  mengenal beberapa orang dalam lingkaranku. Di dalam diri mereka terjadi perubahan (hijrah) dalam hidupnya menuju kebaikan. Dari yang dulunya merupakan probadi yang belum sepenuhnya menjalankan apa yang menjadi kewajiban sebagai seorang muslim, perlahan ia mencoba untuk bertransformasi menjadi seorang muslim. Pada saat itulah, aku banyak belajar bahwa tidak ada yang mengetahui kondisi seseorang dikemudian hari apakah ia menjadi pribadi yang lebih baik atau sebaliknya.

Semoga disetiap kesempatan dalam hidup ini kita diberikan kemampuan untuk terus menyebarkan cahaya yang telah kita genggam untuk memberikan jalan bagi insan lainnya mengenal arti hidup yang sebenarnya. Jikalau kita belum mampu menyebarkan cahaya berusahalah untuk mencari apa yang seharusnya dicari untuk menjadi seorang insan kamil. (Yogyakarta, 8 Agustus 2016)
Read More
"kita ibarat dua tetes air yang bertemu ditengah arung kehidupan ujian, kadang hujan nyaris memisahkan kita. Tapi pada cinta kita berpegangan. Namun, angin yang lembut kini datang membawaku, kuberanikan diriku agar kau bisa tahu bagaimana aku menjagamu. Sampai nanti kita bertemu bagai bintang diangkasa".

Tidak ada yang mengira bahwa kita dapat bertemu diwaktu yang tak disangka-sangka. Perjumpaanku denganmu meski hanya dalam waktu yang singkat menjadi kepingan puzzle yang mengisi dalam kehidupanku. Aku ucapkan salam pada siapapun yang pernah mengenalku, begitu juga kau yang telah berkenan untuk aku kenal.

Pernahkah engkau mendengar sebuah pesan dimana kita harus mencintai orang yang terlebih dahulu mencintai kita. Mungkin saat ini kita tidak lagi ada pada satu lingkaran. Kita mencoba untuk mencari pilihan dan menentukan pilihan yang kita yakini.

Langkah yang kau ambil untuk menuju insan mulia haruslan selalu dipertahankan, berusahalah mencapai batas kesempurnaan yang diperkenankan Pencipta pada hamba-Nya. Aku juga harus mengatakan jika aku bukanlah seorang yang lahir dengan penuh kesempurnaan, aku pernah berada dalam suatu masa dimana berada pada titik paling rendah dalam hidupku. Satu hal yang aku mengerti adalah aku masih memiliki kesempatan untuk bangun, bangkit dan bergerak kembali.

Pada cinta kita berpegangan, akan ada saatnya bahwa kita akan berjumpa. Saat ini biarlah penjagaan dari-Nya yang menjagamu. Hingga pada suatu waktu dimana aku bisa tahu bagaimana aku menjagamu. Tersenyumlah dalam keheninganmu dan merenunglah dalam keramaianmu. Berusahalan untuk mempertahankan pilihan yang kau buat untuk menjadi manusia seutuhnya.

Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home