Hakikat manusia sejak awal memang diciptakan untuk saling berkompetisi
satu sama lain. Bahkan hal ini terjadi sebelum manusia itu muncul kepermukaan
bumi, dimana ia harus berkejaran dengan bakal manusia lainnya di arena balap
pertama di dunia ini. Ketika ia muncul ke bumi. Sebagai pembuka awalnya saat ia
ada di bangku sekolah, manusia sudah di berikan doktrin untuk menjadi yang
terbaik bersaing satu sama lain. Dimana yang paling pandai lah yang akan dipuji
dan dijadikan pembanding dengan yang lain. Tentu saja ini tidak hanya terjadi
dilingkungan sekolah, bahkan dilingkungan sekeluarga sekalipun. Seringkali ditemukan
orangtua yang membandingkan anaknya antara yang satu dengan yang lainnya. Lingkungan
keluarga yang seharusnya menjadi tempat untuk mendobrak sekat-sekat
perbandingan, malah ikut terlibat dalam pusaran perbandingan itu sendiri.
Kompetisi yang lebih keras lagi ketika manusia itu berada pada masa ia
remaja bahkan hingga dewasa. Ia harus mampu bersaing dengan lainnya dalam memperebutkan
pekerjaan, memperebutkan jabatan, kekuasaan bahkan hingga cinta. Dalam rangka
memenangkan itu semua tak jarang mereka menggunakan cara-cara yang tidak sesuai
dengan hati nurani seorang manusia yang seutuhnya. Bagaimana mungkin, demi
mendapatkan sekerat tualng yang tak mengenyangkan, ia lebih memilih untuk
mengkhianati pertemanan yang telah terjalin lama.
Aku mendambakan sebuah tatanan masyarakat, dimana kompetisi hanya
dimonopoli untuk sebuah kebaikan. Manusia menjadi agen yang menjual kebaikan
itu sendiri. Adapun hubungan manusia satu dengan yang lain lebih kepada bagaimana
saling berkolaborasi. Menciptakan suatu kebaikan bersama-sama, misalnya saja
petani menanam padi untuk membantu yang lain menyambung hidup. Ia hanya
mengambil sucukupnya saja, asal ia bisa hidup layak. Begitupula dengan para
distributor dan pengumpul yang memiliki pandangan bahwa ia membeli padi untuk
memperluas cakupan padi tersebut dapat dinikmati semua kalangan. Akankah
tatanan seperti itu dapat terwujud?