Semester 7 merupakan fase dimana para mahasiswa mulai menyusun proposal tugas akhir. Hal ini berlaku juga pada diriku, penyusunan outline hingga melakukan presentasi di depan dosen untuk memperoleh saran dari mereka. Dalam tahap akhir ini tentulah terdapat berbagai pilihan mengenai rencana yang akan dilakukan selesai studi. Ada yang memilih mencari kerja, menjadi enterpreneur, atau melanjutkan studi.

Menginjak ke semester 8 dimana aku sedang menyusun skripsi, aku juga mencoba membuat rencana setelah aku menyelesaikan studi. Aku memilih untuk melanjutkan studi. Orang tua ku selalu memberikan dukungan atas pilihan yang aku ambil. Berbagai persyaratan, deadline hingga hal lain yang harus dipersiapkan aku susun dalam sebuah buku. Pada bulan Oktober 2015, jadwal sidangku di umumkan. Segala sesuatunya telah aku persiapkan sehingga tidak ada kendala yang berarti dalam ujian ini. Revisi yang aku terima setelah sidang juga hanya berupa revisi minor. Selesainya sidang, aku kembali lagi membuka buku mimpiku, mencari informasi lainnya mengenai beasiswa, studi lanjut dan hal lainnya. Aku kumpulkan semua informasi yang sesuai dengan disiplin ilmuku. Sembari menunggu waktu wisuda di Bulan Desember, aku diminta oleh salah satu dosenku untuk membantu beberapa pekerjaan. Jika diukur dengan materi, tentulah hal ini tak seberapa. Namun, aku melakukannya karena passion dan ketertarikanku akan hal itu. Para dosen di TI UII juga aku minta surat rekomendasi untuk keperluan studi lanjut beberapa diantaranya; Pak Agus, Bu Elisa, Pak Ridwan, Pak Yuli hingga Pak Imam. Beliau semua sangat mendukung dan memberi surat rekomendasi yang aku minta.

Bulan Desember 2015, saat teman-temanku ramai mencari dan berdiskusi menganai lowongan kerja di grup angkatan.  Aku memilih untuk mencari informasi peluang studi lanjut.

Disisi lain ada hal lain yang menjadi ganjalan dalam diri saat orang disekelilingku bertanya "Sudah kerja dimana?", "Itu lo, Si A sudah kerja di PT. X dengan gaji bla-bla-bla". Dan pertanyaan lain yang lebih bertendensi ke arah materi. Aku hanya ingin berkata bahwa aku memilih jalanku sendiri dan orang lain tak berhak mengintervensinya.

Sekitar bulan Februari, aku memutuskan untuk pergi ke Pare, sebuah kota kecil di Jawa Timur
TEST-English School. Disini aku belajar tidak hanya bahasa, aku belajar kepemimpinan, kekeluargaan dan membuka cakrawala pemikiranku. Terlebih CEO dari TEST (Lord Arsyandi) merupakan sosok yang sangat menginspirasi bagiku. Pemikirannya sangatlah brilian dan juga membuatku perlu senam otot otak agar mampu mencernanya. Aku ada di PARE selama 4 bulan hingga bulan Mei.

Pada bulan Juni hingga Agustus aku sembari mempersiapkan mengambil ujian IELTS, aku membantu Pak Agus Mansur berbagai kegiatan akademik didalamnya (membuat laporan penelitian, menyusun SAP, responsi mahasiswa dan lainnya). Aku juga mencoba apply beberapa kampus dan beberapa beasiswa. Aku mencoba juga beasiswa dari Pemerintah Poland. Aku membuat proposal penelitian dengan bimbingan dari seniorku (Bang Ridwan, Thanks berat bang :)). Bulan Agustus diumumkan hasilnya, saat itu aku masih ingat saat aku sedang dikampus ada email masuk yang menyatakan aku diterima.

Saat itu juga aku kabari kedua orang tuaku dan akhirnya aku memilih untuk melanjutkan studi di sini. Adapun bulan September lebih banyak aku habiskan untuk persiapan menuju ke salah satu negara di Eropa Tengah ini. (to be continue)





Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home