Source: PEXELS
Dalam mencari sebuah ilmu, kita harus mampu memposisikan sejauh mana kita memandang ilmu itu sendiri. Apakah kita masih berkutat pada paradigma jika ilmu hanyalah sebuah alat untuk mencari sebuah materi. Saat Ilmu harus memperoleh legitimasi selembar kertas dari Institusi tertentu. Ataukah kita mencoba memandang bahwa tidak semua pencarian harus diperoleh melalui pendidikan formal. Dalam proses pencarian tentulah kita tidak bisa mempelajari semuanya secara otodidak. Kita memerlukan bimbingan dari orang yang telah melalui jalan yang akan kita lalui.

Sebagai seorang murid, hendaknya kita mengetahui beberapa jenis guru. Guru kita posisikan sebagai objek dalam proses pencarian. Dalam terminologi Jawa, kita akan gunakan beberapa istilah diantaranya: Kyai Gentong, Kyai Ceret, dan Kyai Talang. Ketiganya memiliki perbedaan dalam pendekatan cara menggali pengetahuan.

Kyai Gentong: Merupakan tipikal seorang guru yang memilih untuk diam. Dia memposisikan dirinya untuk siap diciduk (diambil) ilmu nya oleh para muridnya dengan siwur (gayung). Para muridlah yang aktif untuk mencari, guru hanya berposisi sebagai tempat pencarian. Dia akan menjawab dan menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan muridnya.

Kyai Ceret: Merupakan tipikal dimana murid hanya cukup diam, baik diruang-ruang kelas. Guru akan datang pada muridnya dengan sebuah silabus yang jelas. Murid tidak dituntut untuk harus aktif, karena ia akan menerima tuangan dari gurunya. Yang harus dilakukan hanya cukup mengosongkan gelas yang dimiliki para murid. Hal ini mendorong murid untuk berperilaku ikhlas. Sebagai contoh, jika sang murid telah mengetahui materi apa yang akan disampaikan gurunya dan ia tak bisa mengosongkan gelas pikirannya, maka tumpahlah tuangan yang diberikan oleh sang guru.

Kyai Talang: Tipikal ini lebih dikenal sebagai penyampai apapun yang guru peroleh. Ia akan memberikan semua materi yang pernah ia pelajari. Murid harus memposisikan dirinya sebagai sumur yang siap menerima tuangan air ilmu yang sangat deras dari gurunya. Jika wadah kita masih terlalu kecil untuk menerima itu semua, maka kita hanya perlu untuk mengambil sesuai dengan kapasitas yang kita miliki.
Read More
Source: Kocham Wroclaw
Banyak yang berpikir bahwa bisa kuliah di luar negeri adalah hal yang menyenangkan. Foto dengan berbagai pemandangan yang eye catching, senyum dari berbagai pose dan hal yang nampaknya begitu membahagiakan. Memiliki kesempatan untuk berjalan-jalan, hingga kadang timbul persepsi yang beredar bahwa kuliah di Luar Negeri kerjaannya cuma untuk jalan-jalan.

Pendapat diatas tidaklah benar sepenuhnya. Jika kita mencoba untuk melihat dalam perspektif lainnya, melanjutkan studi baik di luar maupun di dalam negeri tidak ada bedanya. Di dalam negeri kita memiliki kesempatan untuk berinteraksi secara langsung dengan masyarakat, mengenal lebih dekat. Sedangkan melanjutkan studi di negeri lain setidaknya mengajarkan kita beberapa hal.

1. Mandiri
Kita dituntun untuk mempersiapkan segala sesuatunya sendiri. Mulai dari urusan dengan kampus, tempat tinggal, makanan bahkan hingga urusan ibadah.

2. Kemampuan Beradaptasi
Perbedaan agama, budaya dan kebangsaan membuat kita dituntut agar mampu menyesuaikan diri dengan cepat. Suara adzan yang tiba-tiba lenyap, menjadi minoritas merupakan hal lain yang menjadi kesempatan bagi kita arti penting sebuah toleransi.

3. Berdamai dengan rindu

Hal ini juga berlaku dengan urusan perasaan. Dimana kita harus berpisah untuk sementara waktu dengan keluarga, sahabat bahkan orang yang kita kasihi. Perasaan untuk bisa bertemu setiap hari menjadi angan-angan belaka.

Belajar di negeri yang jauh dari tempat asal kita juga memberikan kita kesempatan untuk meningkatkan kapasitas diri. Niat dan mental yang kuat haruslah telah terpatri dalam hati para calon mahasiswa yang memiliki keinginan untuk mengecap studi di negeri seberang.

Saya secara pribadi juga merasa iri dengan teman-teman yang ada di Indonesia. Mereka yang memiliki kepedulian terhadap negeri, memiliki kesempatan secara langsung untuk dapat berkontribusi pada negeri. Yang perlu kita lakukan adalah memperbanyak kolaborasi dalam berbagai hal. Semoga hati ini selalu terpaku pada Ibu Pertiwi. Menjadi tanggung jawab moral bagiku untuk selalu ingat bahwa setiap langkah, setiap makanan yang aku gunakan terdapat hak dari rakyat Indonesia yang aku gunakan untuk saat ini.


15 Oktober 2016
Negeri Putih Merah




Read More
Terlintas dalam benakku untuk menulis artikel tentang cinta, wanita dan pernikahan. Adalah hal yang lumrah dimana pada usia 22-24, wanita Indonesia mulai memikirkan siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya. Dia yang mampu memberikan keteduhan, menjadi pengayom dan penjagalah yang akan memperoleh sekeping hati yang hilang.

Terkadang tidak semua orang mempunyai jalan yang sama hingga menuju jenjang pernikahan. Ada yang harus berkali-kali menemui jalan yang terjal, adapula yang bisa melenggang tanpa banyak masalah. Satu hal yang harus dipahami adalah mengapa kamu harus memutuskan untuk bersama dia? Jika jawaban itu belum juga ditemukan, berarti kamu harus mencari lebih jauh lagi makna pernikahan sesungguhnya.

Pada usia 22-24, kamu juga harus mampu meredifinisi arti sosok pasangan ideal di mata kamu. Mulai dari materi, tampang ataupun atribut yang tampak lainnya. Ketertarikanmu akan jauh lebih realistis dibandingkan dengan sosok pasangan ideal yang ada di film drama Korea. Setelah menyelesaikan studi S1 kamu punya pilihan untuk mencari kerja atau melanjutkan studi.

Jika kamu memutuskan untuk bekerja, pelajari berbagai hal mengenai teknik wawancara, soft skill apa yang kamu butuhkan untuk perusahaan yang akan di apply. Jika kamu memutuskan untuk studi lanjut, persiapkan berbagai persyaratan universitas, beasiswa yang akan di apply dan restu dari kedua orang tuamu. Tidak sedikit aku temui beberapa rekan yang memilih tidak mengambil beasiswa yang diperoleh karena tidak dapat ijin dari orang tua, usia yang semakin bertambah, serta pendamping yang tak kunjung datang. Jika niatmu belum bulat, kamu perlu yakinkan dirimu dan orang disekitar.

"kepingan hati kamu pasti akan sesuai dengan tingkat kapasitas diri kamu"


Read More
Iseng Nunggu Antrian
Salah satu hal yang harus dilakukan ketika belajar di luar negeri adalah membuka rekening Bank untuk memperlancar studi kita. Dengan adanya account bank memungkinkan kita untuk membeli tiket trem, bus maupun berbagai aktivitas lainnya. Sistem pembayaran di pertokoan yang mana hampir dilakukan secara elektronik menjadikan account bank menjadi sangat penting.

Pada artikel ini, saya akan mencoba untuk berbagi pengelaman membuka rekening bank. Di Polandia terdapat beberapa pilihan Bank. Adapun penulis memilih membuka rekening di Millenium Bank. Secara keseluruhan terdapat beberapa syarat berupa: Passport, Surat keterangan dari kampus, mengisi application form. Kita bisa mendatangi salah satu cabang bank terdekat, mengambil tiket antrian, lalu menuju bagian pihak administrasi untuk membuat rekening khusus mahasiswa dimana terdapat limit penarikan sehari sebesar 10.000 zloty.

Dalam membuka rekening, kita tidak perlu memberikan setoran awal seperti Bank di Indonesia. Adapun proses approval dari perbankan dibutuhkan waktu 7 hari. Kartu ATM akan dikirimkan secara langsung menuju tempat tinggal kita. Nantikan cerita selanjutnya :)



Read More
Bicara mengenai nilai memang takkan ada habisnya. Entah nilai yang diciptakan tiap orang, nilai dari banyak orang atau memang nilai yang berasal dari sumbernya itu sendiri.
Terkadang pemahaman dan sejauh mana nilai itu dipegang menjadi penilaian subjektif.
Hal lain yang kadang menjadi perhatian tersendiri ketika kebanyakan seolah menjadi hakim yang berhak menjustifikasi atas ketidaksesuaian nilai yang dipahami. Mereka kadang tak semuanya memahami posisi mereka sebagai manusia. Mungkin masih pada tahap menjadi rumput yang siap di makan oleh rusa.
Seandainya engkau seorang diri dimana engkau berjalan dimalam hari ditengah hutan dan engkau belum tahu arah yang hendak kau tuju.
Pasti adakalanya engkau mencoba dan menerka-nerka jalan keluar dari hutan belantara tersebut.
Namun saat ditengah jalan dan jalan yang engkau pilih membuat mu tertusuk duri, lalu duri itu menancap di tubuhmu. Baru engkau tahu bahwa jalan yang ada bukan jalan untuk pulang.
Satu hal yang pasti, engkau telah berani mencoba untuk melangkah, tentu langkah itu tak boleh berhenti sampai saat ini. Engkau harus menyelesaikan tugasmu saat ada di dunia ini, menjadi manusia seutuhnya.
Ambillah sedikit cerita kala seorang Khalifah Kedua Umar, sebelum ia tahu akan cahaya ia pernah mengubur anak perempuannya hidup-hidup. Sebuah drama paling tragis saat itu. Namun, kala Muhammad berkenan memberinya lilin yang memancarkan cahaya, perlahan ia bisa berjalan pada jalan yang sebenar-benarnya jalan.
Pada akhirnya perkenankanlah embun itu menetes pada daun agar daun mengerti betapa sejuk dan tenangnya tetesan dari embun. Sebelum sepenuhnya matahari memberi cahayanya, embun tak tahu pada daun mana ia harus menetes.
“Dunia hanyalah seperti cermin yang memantulkan kesempurnaan Cintanya. Wahai kawan! Mungkinkah ada sesuatu yang lebih besar dari keseluruhan?”
Read More
Tulisan yang ada saat ini merupakan artikel sebelumnya yang akan di publish dilain waktu
Perjalananku untuk memulai sebuah petualangan dimulai tangga 28 September 2016. Kedua Orang tua dan adik serta temanku mengantar di Bandara.
Aku bertolak dari kota pelajar (Jogjakarta) menuju Jakarta. Pesawat yang aku tumpangi mengalami delay sekitar setengah jam karena ada tamu VVIP yang menggunakan jalur tersebut.

Sekitar Pukul 2 Aku sampai Jakarta dan bertemu dengan dua rekan lainnya. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju doha selama 8 jam perjalanan lalu dilanjutkan transit  selama dua jam sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Warsaw yang memakan waktu 6 jam. Aku selalu berusaha memberikan kabar kepada keluarga termasuk saat ada diatas pesawat. Setibanya di Warsaw aku melewati Border Gate untuk memeriksa apa tujuan datang ke sini dan Visa yang telah diperoleh. Petugas di Bandara begitu dingin sehingga terkadang kita akan menemukan kesulitan untuk memahami logat bahasa Inggrisnya.

Selesai sekitar pukul 8 kami bertemu dengan kakak-kakak dari PPI yang dengan ramah membantu kami menuju kota tujuan masing-masing. Kami menyempatkan untuk membeli kartu seluler sementara seharga 5 zloty yang diregistrasikan dengan menggunakan Pasport. Pada pukul 9 kami harus segera mencari kereta dalam kota untuk mengejar Polski Bus yang digunakan untuk mengantarku ke kota Wroclaw. Selama 5 jam aku berada di Bus. Sekitar jam 15.30 aku tiba di stasiun terakhir bus ini. Lalu ada bang Andrian yang menjemputku sekitar setengah jam kemudian. Dengan menyeret-nyeret koper yang cukup melelahkan aku menuju dorm awal T-19. Namun dikarenakan pihak manajer dorm tidak memberi info kepada petugas jaga, aku tidak diperkenankan untuk masuk dorm. Terpaksa aku harus bermalam di dorm T15 dengan kondisi lampu kamar yang mati. Sebelumnya sore hari, aku diajak mengelilingi sepotong Wroclaw dengan trem kota. Kesan pertama yang aku lihat adalah kota ini bersih, teratur, tertib, dan juga masyarakat yang tertata.
Bang Raji membantuku untuk menyelesaikan masalah ini dengan mencoba melobi kepada Pani (Penjaga Dorm). Berhubung pagi aku akan pindah, koper tidak mungkin aku bongkar. Hahaha, terpaksa aku sehari tidak mandi mulai dari Indonesia hingga tiba disini. Keesokan harinya tanggal 29 September, aku dibantu bang Raji melakukan registrasi dengan memberikan deposit sebesar 220 zloty. Akhirnya aku memperoleh kamar di dorm T19.
Sore harinya aku berkeliling kota ini dengan menggunakan tiket harian, sehingga kita bebas menggunakannya pada periode tersebut. Aku berkeliling di Wroclaw Technical University dan melihat kampus yang cukup megah jika dibandingkan dengan di negeriku. Nantikah cerita selanjutnya ya :)


Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home