Unsplash
Pertumbuhan e-commerce Indonesia mencapai 78% per tahun dengan nilai transaksi pada 2018 mencapai Rp 144,1 triliun. Angka ini meningkat hingga lima kali lipat jika dibandingkan dengan kondisi lima tahun lalu [1]. Sejumlah perusahaan rintisan dengan label unicorn antara lain Bukalapak dan Tokopedia menikmati keuntungan pada bisnis digital ini. Serta puluhan e-commerce lainnya yang masih berjibaku untuk merebut sisa pangsa pasar yang ada telebih penetrasi internet yang sudah menyentuh angka 54,68 persen dari total jumlah penduduk.

Salah satu aspek yang memiliki peranan penting untuk terus mendorong pertumbuhan ekonomi digital adalah adanya perusahaan penyedia jasa logistik. Perusahaan ini menjadi kunci sebagai pihak yang mendistribusikan barang sampai ke tangan konsumen. Berdasar data dari WorldBank, Indeks Performa Logistik Indonesia mengalami kenaikan dari peringkat 63 menjadi 43 [2]. Kompetisi antar penyedia jasa logistik akan semakin kompetitif, sehingga strategi atau terobosan baru diperlukan untuk memastikan bisnis dapat berjalan dengan lancar.

Big Data Analytics
Efek dari besarnya transaksi digital dimasyarakat berdampak pada jumlah arus data yang beredar. Perusahaan e-commerce dituntut mampu menganalisis data yang telah tercatat untuk digunakan sebagai acuan dalam mengambil keputusan strategis. Sistem distribusi dan kemampuan untuk mengelola logistik memiliki hubungan yang sangat kuat pada suksesnya perusahaan e-commerce [3], [4]. Selain itu manajemen e-commerce juga membutuhkan layanan pengiriman yang memuaskan, sistem informasi logistik yang baik, keamanan dalam pengadaan, kolaborasi dalam internal organisasi, kemudahan pembayaran melalui mobile banking dan mobile channel yang efisien [5].

Adapun dari sisi prediksi permintaan, pada pendekatan secara tradisional di mana permintaan dipandang sebagai dasar dalam melakukan perencanaan dan mengeksekusi aktivitas supply chain mulai dari pengadaan hingga distribusi. Perkembangan Point-of-Sale (POS), Internet of Things (IoT), konten dari sosial media menjadi beberapa hal yang dipertimbangkan dalam memprediksi kebutuhan konsumen. Jumlah data yang besar dan cenderung tidak terstruktur  memerlukan kemampuan untuk memahami perilaku konsumen, perbaikan prediksi permintaan dan eksekusi supply chain management yang lebih baik [6]. Semakin awal perusahaan mampu mengolah data yang dihasilkan khususnya pada tahap user-generated content (UGC) seperti pencarian pada Google, postingan pada Sosial Media akan semakin baik. Mengingat UGC menjadi faktor penting dalam tahap di mana konsumen mengidentifikasi produk apa yang dicari, membandingkan dengan produk lain hingga menentukan untuk membeli suatu produk. 

Peran lain dari big data adalah memberikan pengalaman pengguna (user experience) sesuai dengan perilaku pengunjung website e-commerce. Big data analytics dalam salah satu implementasinya adalah memberikan rekomendasi produk yang sesuai dengan apa yang sedang dicari. Kegiatan promosi juga dapat lebih mengenai sasaran sesuai dengan minat dari pengguna. Dari sisi strategi harga di mana akan lebih mudah untuk memberikan penawaran harga yang menarik dengan mendapatkan perbandingan dari kompetitor. Angka konversi dari pengunjung website menjadi pembeli dapat dipantau secara langsung sehingga manajer perusahaan dapat mengambil keputusan lebih cepat jika ditemukan conversion rate menurun.

Memahami Perilaku Konsumen
Tujuan akhir dari perusahaan adalah meningkatkan nilai perusahaan tersebut dengan meningkatkan keunggulan kompetitif dibandingkan dengan kompetitor lainnya. Hal yang sama juga dengan perusahaan e-commerce yang saling berlomba untuk mencari investor baru guna memperluas pangsa pasar dan memperoleh keuntungan yang lebih besar. Perilaku pengguna internet yang bisa dipahami memberi gambaran awal pada produk atau layanan mana mereka tertarik. Konsep yang menarik dalam memahami ini adalah konsep customer centricity.

Customer centricity merupakan strategi yang secara fundamental menyesuaikan produk dan jasa pada konsumen yang paling penting berdasar kebutuhan dan keinginan mereka [7].  Beberapa contoh perusahaan yang sukses menerapkan pendekatan ini antara lain Amazon, Tesco, dan Netflix.  Konsumen menjadi pusat dari segala aktivitas yang dilakukan.  Beberapa cara yang dilakukan antara lain: Proses pemesanan dan pengiriman dilakukan dengan cepat dan tanpa hambatan, Menawarkan produk sesuai dengan minat konsumen dan membantu konsumen memilih barang yang sesuai baik secara kualitas maupun harga.

Pendekatan konvensional umumnya memberikan arahan jika organisasi harus menjaga hubungan dan memperlakukan semua konsumen dengan sama dan semuanya penting bagi organisasi. Dampaknya bisa jadi perusahaan memberikan layanan yang berlebihan pada unprofitable customers dan mengesampingkan konsumen yang lebih menjanjikan. Konsumen harus diberikan nilai sesuai dengan perilaku dan prospek di masa yang akan datang. Customer centricity  memberi keuntungan pada perusahaan dalam jangka panjang.

Perusahaan e-commerce harus mampu menjadikan konsumen sebagai subjek dengan memberdayakannya seperti memberi kesempatan untuk memberi review dan feedback pada produk yang telah disukai. Ketersediaan informasi dari satu konsumen akan memberi dampak pada konsumen lain untuk memutuskan membeli suatu produk. Kebebasan untuk memberikan ulasan atau memberi informasi pada konsumen lainnya akan berdampak pada  perasaan konsumen bahwa keputusan yang dibuat adalah keputusan mereka sendiri.

Komunikasi secara aktif antara perusahaan e-commerce dengan perusahaan ekspedisi harus terus dijalin. Harapan konsumen yang semakin hari semakin tinggi menjadikan ketepatan waktu mendapatkan barang sebagai hal yang mendorong puas tidaknya konsumen. Tantangan agar pihak perusahaan ­e-commerce dan perusahaan ekspedisi saling bertukar data dalam satu platform yang sama menjadi kunci untuk meningkatkan keunggulan kompetitif dan memenangkan persaingan.


REFERENSI
[1]      A. A. Laras, “Tiga Celah Pengembangan E-Commerce di Indonesia,” Katadata, 2018. [Online]. Available: https://katadata.co.id/analisisdata/2018/10/23/tiga-celah-pengembangan-e-commerce-di-indonesia. [Accessed: 06-Jan-2019].
[2]      B. Raharjo, “E-Commerce dan Infrastruktur Topang Laju Industri Logistik,” Republika, 2018. [Online]. Available: https://republika.co.id/berita/ekonomi/korporasi/18/07/29/pcmmmk415-ecommerce-dan-infrastruktur-topang-laju-industri-logistik. [Accessed: 06-Jan-2019].
[3]      A. J. Cullen and M. Taylor, “Critical success factors for B2B e-commerce use within the UK NHS pharmaceutical supply chain,” Int. J. Oper. Prod. Manag., vol. 29, no. 11, pp. 1156–1185, 2009.
[4]      Y.-H. Hsiao, M.-C. Chen, and W.-C. Liao, “Logistics service design for cross-border E-commerce using Kansei engineering with text-mining-based online content analysis,” Telemat. Informatics, vol. 34, no. 4, pp. 284–302, Jul. 2017.
[5]      P.-J. Wu and K.-C. Lin, “Unstructured big data analytics for retrieving e-commerce logistics knowledge,” Telemat. Informatics, vol. 35, no. 1, pp. 237–244, Apr. 2018.
[6]      A. Jain and N. R. Sanders, “Forecasting sales in the supply chain: Consumer analytics in the big data era,” Int. J. Forecast., vol. 35, no. 1, pp. 170–180, Jan. 2019.

[7]      Peter Fader, “Customer Centricity: Focus on the Right Customers for Strategic Advantage, Second Edition,” May 15, 2012. Wharton Digital Press, Philadelphia, 2012.
Read More
Aku melihat postingan terakhir dimana hampir setahun aku tidak pernah lagi menulis melalui laman pribadi ini. Ada beberapa alasan dikarenakan biaya sewa alamat yang membuat aku memilih untuk tidak melanjutkan untuk beberapa saat. Serta aku merasa ada platform lain yang bisa aku gunakan.  Tulisan kali ini mungkin bisa dikatakan berupa refleksi atas apa saja yang telah berlalu di tahun 2018.

Di awal 2018, aku masih berkutat denga kegiatan perkuliahan yang memasuki tahun pertama dimana semester pertama dapat dilalui dengan hasil yang cukup baik. Selain diperkuliahan, aku juga ikut dalam organisasi kemahasiswaan (PPI) dimana aku memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan suksesi kepemimpinan selanjutnya. Meski dalam perjalanannya tidak mudah karena adanya berbagai kendala internal, namun pada akhirnya kepengurusan kali ini bisa berjalan dengan lancar.
Bersama Pengurus Yang Tersisa
Hal lain yang membuat aku banyak belajar adalah bagaimana susahnya mengurus ijin tinggal (karta pobytu) di Polandia. Aku harus menunggu hampir setahun dimana hampir tiap minggu aku harus datang ke kantor catatan sipil untuk memantau perkembangan status aplikasiku. Disini aku harus mengantri bersama dengan orang dari negara lain. Masih aku ingat bagaimana harus bangun pagi buta untuk berebut antrian dan dalam kondisi suhu dibawah 0 derajat.
Uyel-uyelan
Di tahun ini juga aku menjalani puasa di tahun kedua aku tinggal disini. Durasi yang lebih panjang menjadi tantangan bagiku. Perkuliahan tetap berjalan seperti biasa yang membedakan adalah aku harus menunggu hinggal jam 9 malam untuk menanti waktu berbuka. Perkuliahanku tidak jarang hingga hari minggu, pernah juga aku harus ikut studi tour ke pabrik. Dan saat yang lain sedang makan siang, aku bersama rekanku memilih untuk duduk sembari beristirahat di tengah panas yang sangat terik. 

Saat kuliah disini, aku mendapat kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana proses suatu bisnis dari Amazon, salah satu e-commerce terbesar di dunia. Teknologi yang digunakan hingga sistem yang ada didalamnya membuat aku bisa mengerti apa yang sebenarnya terjadi. 
Gudang Amazon, Katowice

Pada musim panas tahun ini, aku juga bisa berkesempatan untuk pulang berlibur ke Indonesia. Meski hanya 2 bulan, namun setidaknya rasa kangenku dengan orang tua dapat terobati. Hingga menjelang berakhirnya liburan aku merasa berat untuk meninggalkan Indonesia dan harus kembali lagi disini untuk menyelesaikan studiku. Di waktu senggang, sebagai mahasiswa kita seringkali mengadakan acara berupa masak bersama untuk mengobati rasa rindu akan kuliner khas nusantara. 

Makan Rame-rame


Pada masa akhir penghujung tahun ini, terkadang aku merasa masih ada banyak hal yang belum bisa aku wujudkan sesuai dengan rencana. Adakalanya rencana yang telah disusun tidak bisa untuk direalisasikan karena ada berbagai pertimbangan. Mendengar lebih banyak bisa jadi menjadi cara terbaik untuk aku sebelum mengambil sebuah keputusan besar.  Akhir tahun ini semoga menjadi penutup atas berbagai hal yang mungkin belum bisa aku capai. Semoga saja tahun berikutnya ada hal yang lebih baik yang bisa diraih dan menjadi titik awalan setelah aku menyelesaikan studi ini. 

Aku juga berharap agar aku tidak menjadi pribadi yang bosan untuk terus mencari hal-hal baru dan belajar apapun. 

Lodz, Kota Tua




Read More
Merakit Lego
Cerita kali ini berasal dari kelas. Awalnya aku bersama temanku duduk berdua melihat anak-anak yang lain telah membentuk kelompok dengan anggota maksimal 5 orang. Hanya tersisa kami yang tidak mendapatkan bagian. Tiba-tiba ada temanku yang sebelumnya pernah bekerja kelompok denganku dan bertanya apakah dia diperkenankan untuk bergabung dengan kelompok ini, tentulah aku menjawab iya. Selang beberapa saat ada Anak lain yang juga akhirnya bergabung ke kelompokku karena sudah tidak ada pilihan lain. Spontan saja aku berbisik dengan rekanku jika akhirnya kita bisa mendapatkan kelompok dengan tidak terlalu susah. 

Kelaspun dimulai dengan dibagikan kertas yang berisi materi yang akan dipelajari hari ini. Pembelajaran untuk mata kuliah Organisation of Production System menggunakan metode problem based learning. Awalnya siswa diminta untuk membaca dan menghubungkan dengan pengetahuan sebelumnya yang pernah dipelajari. Kemudian kita akan diminta untuk menjelaskan apa yang telah dibaca ke rekan satu kelompok. 

Perasaan akward muncul saat kami belum saling kenal. Aku Coba untuk sekedar membuka komukasi saat rekanku dari Polandia bertanya mengapa kami berdua menggunakan jaket di dalam ruangan. Aku menjawab bahwa menurutku suhu saat ini dingin meski didalam ruangan. Percakapanpun berlanjut mengenai mengapa kami memilih untuk belajar di Polandia yang notabene sangat jauh dari negera kami berasal. 

Percakapanpun mengalir begitu saja khususnya saat berbicara mengenai kuliner. Kami mencoba untuk memperkenalkan kekayaan kuliner yang ada di Indonesia. Rendang dengan segala kelezatannya, soto ayam dengan tampilan yang menyegarkan. Suasanapun menjadi lebih hangat. Hingga aku mengerti bahwa lebih baik memulai untuk berkomunikasi dengan siapapun karena kita terkadang tidak tahu bagaimana serunya bisa berinteraksi dengan manusia. 



Read More
Seharian aku habiskan waktuku di kampus. Aku baru saja sampai ke dormitory tempat aku tinggal pukul setengah sembilan malam. Rasa lelah, Lapar tidak bisa ditunda lagi. Ku cari-cari makanan yang tersisa ternyata aku tak menemukan apapun. Rencananya setelah selesai kuliah aku berencana untuk pergi berbelanja. Namun apa mau dikata, waktu sudah terlalu larut. Hari itu aku merasa otakku dipaksa untuk berpikir dan baru kali ini aku sedang belajar. Sebelumnya aku berpikir jika belajar dapat dilakukan di dalam kelas, duduk manis mendengarkan apa yang disampaikan oleh dosen. Namun ternyata hal itu tidaklah demikian, belajar lebih pada proses dimana kita mencoba menghubungkan apa yang telah menjadi pengetahuan awal di kita lalu mengasosiasikannya dengan kondisi yang sedang kita amati. 

Seringkali masayarakat pada umumnya memiliki pandangan bahwa dengan memasukkan anaknya kesekolah, menganggap bahwa anaknya sedang belajar menuntut ilmu. Terlepas setelah selesai sekolah, ijazah yang digunakan untuk mencari pekerjaan. Dari tujuan awal dimana dengan bersekolah akan mempermudah mendapatkan materi (pekerjaan) membuat kita akan mengalami kebingungan dalam bertindak atau menjalani setiap proses. 

Padahal jika diperhatikan lebih lanjut, belajar sejatinya tidak mengenal ruang dan waktu. Para petani yang dipagi hari bergegas menuju ladangnya, menyiangi rumput di sekitar pematang, sejatinya mereka sedang belajar untuk menunggu tumbuhnya tanaman yang ditanam. Atau nelayan yang saat pergi melaut seringkali melihat tanda alam seperti bentuk rasi bintang, arah angin. Juga menunjukkan bahwa mereka juga sedang ada dalam proses untuk belajar. 

Belajar juga tidak boleh berhenti selama kita ada. Berhentinya kita untuk belajar sejatinya kita telah mematikan diri kita sendiri. Hingga seringkali kita mendengar ucapan “ada orang yang telah meninggalkan dunia namun karyanya masih ada hingga kini” atau “ada orang yang masih hidup tapi sejatinya ia telah mati”. Menjadi seorang pembelajar akan fokus pada menikmati setiap proses yang sedang dijalani. Ia akan memandang bahwa dengan belajarnya akan mampu memberi manfaat pada orang lain.  Maka dari itu, penting dari awal untuk menentukan apakah kita akan menjadi orang yang mencoba untuk terus belajar tanpa kenal lelah. Dengan begitu kita akan selalu merasa senang dengan segala proses yang sedang kita jalani. 
Read More
Sudah hampir tiga bulan lamanya aku tidak menulis di laman pribadiku ini. Terakhir kali aku melihat postingan terakhir di bulan Juli. Selama tiga bulan aku libur panjang setelah selesai persiapan bahasa polandia. Selama itu aku disibukkan dengan berbagai hal, mulai dari pindah untuk mencari tempat tinggal, mengurusi ijin tinggal karena visa yang sudah habis, serta berbagai persoalan yang muncul.

Pernah aku mengalami suatu masa dimana aku hampir berputus asa. Aku kembali bertanya tentang apakah yang telah aku jalani ini adalah tepat. Membandingkan diriku dengan yang lain merupakan hal yang sering aku lakukan. Berpikir bahwa yang aku jalani apakah sebanding dengan hasil yang akan aku peroleh dikemudian hari.

Hinga beberapa hari akhir-akhir ini, aku merasa ada dinding yang menjulang tinggi yang harus aku lewati. Besok aku harus sudah mulai kuliah, untuk saat ini aku tinggal di dorm. Lorong dorm masih sepi tak banyak orang. Kehidupan baru sebagai seorang mahasiswa akan aku mulai. Berbagai tugas serta proyek tentulah takkan dapat dihindari. Jam tidur yang akan semakin tak teratur menjadi hal yang harus disiapkan.

Aku selalu mohonkan doa dari kedua orangtuaku agar jalan yang aku tempuh mendapat kemudahan. Hidup yang aku jalani akan mudah jika aku memperoleh restu dari keduanya.

Dalam dingin yang menusuk
Lodz, saat musim panas berakhir
Read More
Seberapapun aku jauh untuk pergi. Ada waktu ya aku rindu akan semua yang ada di dalam rumah. Rumah menjadi tempat bagiku untuk berdiskusi, mengeluarkan pendapat dan berbagi gagasan akan segala hal. 

Aku Ingat bagaimana ayah memberi pendidikan akan hukum, politik dan sistem tata negara. Ayah selalu menekankan bahwa orang dihargai karena kapasitas keilmuannya. Jangan terpukau akan materi yang ada pada orang lain. Lihat terlebih dahulu apakah mereka orang yang berilmu atau tidak, terlebih jika mereka memperoleh materi dengan cara-cara yang tak dibenarkan. Jangan pernah taruh simpati sedikitpun. Idealisme itu yang coba aku bawa hingga saat ini.

Selain itu aku sangat merindukan diskusi di meja makan tentang hal lain akan hidup. Seringkali aku harus berdebat karena perbedaan pandangan. Kebebasan yang diberikan padaku untuk berpikir dan mengembangkan argumentasiku sangatlah di hargai di rumah kecil ini. 

Sedangkan dalam hal penanaman nilai, ibu menjadi orang yang selalu mengajari ku akan nilai-nilai luhur. Ibu selalu memberikan contoh disekeliling agar aku mudah mencerna apa yang disampaikan. 


Mungkin saja untuk saat ini, aku belum bisa untuk kembali merasakan keadaan itu. Jarak dan waktu tidak sepenuhnya memungkinkan untuk mengulang memori yang pernah ada di rumah sederhana kami. Ingin rasanya segera menyelesaikan apa yang ada di depanku saat ini dan segera kembali ke rumah kecilku. 
Read More
Sebuah renungan bagi diriku sendiri. Ada kalanya aku merasa bahwa segala ambisi ataupun keinginan untuk mengejar sebuah materi berakhir dengan hal yang diluar perkiraan. Pernahkan kita berpikir, seberapa banyak usaha yang telah dilakukan untuk mengejar sebuah eksistensi, penilaian dari orang lain ataupun usaha kita mencari apa yang nampak.

Pernah kita jumpai, orang yang dengan teganya melucuti derajat kemanusiaan saudaranya sendiri. Melakukannya tidak lain untuk mengangkat dirinya agar lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain.  Jika bisa digambarkan dengan lebih jelas, sifat ke-akuan lebih menonjol dibantingkan dengan kita. Selalu membandungkan aku dan kamu, dengan parameter penilaian berupa pencapaian orang lain yang melebihi dari diri sendiri.

Perlu kesadaran yang menyeluruh bagaimana seharusnya kita bertindak dan bersikap atas apa yang ada disekitar kita. Memperhitungkan bahwa semua yang dilakukan terdapat konsekuensi hukum dikemudian hari. Akan ada kalkulasi menyeluruh dari apa yang telah kita upayakan di sebuah perjalanan yang mungkin cukup melelahkan ini.


Read More
Depan pałac kultury i nauki 
Setelah harus berpuasa dengan durasi yang cukup lama sekitar 18 jam. Akhirnya tiba waktunya untuk merayakan hari kemenangan. Tidak seperti di Indonesia dimana perayaan begitu ramai dan semarak. Disini hari lebaran tak ubahnya seperti hari biasa. Aku memilih untuk merayakan lebaran di Warsaw. Selain ada undangan dari KBRI untuk seluruh mahasiswa Indonesia, tentunya adanya opor ayam menjadi motivasi tersendiri. Sebelum menyantap opor ayam beserta makanan lainnya, tentunya kita harus sholat dulu. Jarak dari pusat kota menuju masjid bisa ditempuh sekitar 20 menit. Dan inilah ekspresi kami saat mau makan opor ayam.
Mengejar Opor


Seperangkat Opor dkk
Setelah selesai makan opor ayam, aku akhirnya sempat bertemu dengan adik tingkaku yag berhasil memperoleh medali emas di acara International Invention and Innovation. Akupun mengantar mereka ke stasiun bus untuk melanjutkan perjalanan mengelelingi beberapa kota di Eropa Timur, sebelum kembali lagi ke Indonesia. Dan yang tak lupa adalah ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk rekan-rekan PPI Polandia atas kesediaannya membantu menjemput dan mengarahkan setiap mahasiswa yang akan datang ke negeri putih merah ini. Salam Perhimpunan!!!
Bersama Mahasiswa UII




Read More
Previous PostOlder Posts Home