Sudah hampir tiga bulan lamanya aku tidak menulis di laman pribadiku ini. Terakhir kali aku melihat postingan terakhir di bulan Juli. Selama tiga bulan aku libur panjang setelah selesai persiapan bahasa polandia. Selama itu aku disibukkan dengan berbagai hal, mulai dari pindah untuk mencari tempat tinggal, mengurusi ijin tinggal karena visa yang sudah habis, serta berbagai persoalan yang muncul.

Pernah aku mengalami suatu masa dimana aku hampir berputus asa. Aku kembali bertanya tentang apakah yang telah aku jalani ini adalah tepat. Membandingkan diriku dengan yang lain merupakan hal yang sering aku lakukan. Berpikir bahwa yang aku jalani apakah sebanding dengan hasil yang akan aku peroleh dikemudian hari.

Hinga beberapa hari akhir-akhir ini, aku merasa ada dinding yang menjulang tinggi yang harus aku lewati. Besok aku harus sudah mulai kuliah, untuk saat ini aku tinggal di dorm. Lorong dorm masih sepi tak banyak orang. Kehidupan baru sebagai seorang mahasiswa akan aku mulai. Berbagai tugas serta proyek tentulah takkan dapat dihindari. Jam tidur yang akan semakin tak teratur menjadi hal yang harus disiapkan.

Aku selalu mohonkan doa dari kedua orangtuaku agar jalan yang aku tempuh mendapat kemudahan. Hidup yang aku jalani akan mudah jika aku memperoleh restu dari keduanya.

Dalam dingin yang menusuk
Lodz, saat musim panas berakhir
Read More
Seberapapun aku jauh untuk pergi. Ada waktu ya aku rindu akan semua yang ada di dalam rumah. Rumah menjadi tempat bagiku untuk berdiskusi, mengeluarkan pendapat dan berbagi gagasan akan segala hal. 

Aku Ingat bagaimana ayah memberi pendidikan akan hukum, politik dan sistem tata negara. Ayah selalu menekankan bahwa orang dihargai karena kapasitas keilmuannya. Jangan terpukau akan materi yang ada pada orang lain. Lihat terlebih dahulu apakah mereka orang yang berilmu atau tidak, terlebih jika mereka memperoleh materi dengan cara-cara yang tak dibenarkan. Jangan pernah taruh simpati sedikitpun. Idealisme itu yang coba aku bawa hingga saat ini.

Selain itu aku sangat merindukan diskusi di meja makan tentang hal lain akan hidup. Seringkali aku harus berdebat karena perbedaan pandangan. Kebebasan yang diberikan padaku untuk berpikir dan mengembangkan argumentasiku sangatlah di hargai di rumah kecil ini. 

Sedangkan dalam hal penanaman nilai, ibu menjadi orang yang selalu mengajari ku akan nilai-nilai luhur. Ibu selalu memberikan contoh disekeliling agar aku mudah mencerna apa yang disampaikan. 


Mungkin saja untuk saat ini, aku belum bisa untuk kembali merasakan keadaan itu. Jarak dan waktu tidak sepenuhnya memungkinkan untuk mengulang memori yang pernah ada di rumah sederhana kami. Ingin rasanya segera menyelesaikan apa yang ada di depanku saat ini dan segera kembali ke rumah kecilku. 
Read More
Sebuah renungan bagi diriku sendiri. Ada kalanya aku merasa bahwa segala ambisi ataupun keinginan untuk mengejar sebuah materi berakhir dengan hal yang diluar perkiraan. Pernahkan kita berpikir, seberapa banyak usaha yang telah dilakukan untuk mengejar sebuah eksistensi, penilaian dari orang lain ataupun usaha kita mencari apa yang nampak.

Pernah kita jumpai, orang yang dengan teganya melucuti derajat kemanusiaan saudaranya sendiri. Melakukannya tidak lain untuk mengangkat dirinya agar lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain.  Jika bisa digambarkan dengan lebih jelas, sifat ke-akuan lebih menonjol dibantingkan dengan kita. Selalu membandungkan aku dan kamu, dengan parameter penilaian berupa pencapaian orang lain yang melebihi dari diri sendiri.

Perlu kesadaran yang menyeluruh bagaimana seharusnya kita bertindak dan bersikap atas apa yang ada disekitar kita. Memperhitungkan bahwa semua yang dilakukan terdapat konsekuensi hukum dikemudian hari. Akan ada kalkulasi menyeluruh dari apa yang telah kita upayakan di sebuah perjalanan yang mungkin cukup melelahkan ini.


Read More
Depan pałac kultury i nauki 
Setelah harus berpuasa dengan durasi yang cukup lama sekitar 18 jam. Akhirnya tiba waktunya untuk merayakan hari kemenangan. Tidak seperti di Indonesia dimana perayaan begitu ramai dan semarak. Disini hari lebaran tak ubahnya seperti hari biasa. Aku memilih untuk merayakan lebaran di Warsaw. Selain ada undangan dari KBRI untuk seluruh mahasiswa Indonesia, tentunya adanya opor ayam menjadi motivasi tersendiri. Sebelum menyantap opor ayam beserta makanan lainnya, tentunya kita harus sholat dulu. Jarak dari pusat kota menuju masjid bisa ditempuh sekitar 20 menit. Dan inilah ekspresi kami saat mau makan opor ayam.
Mengejar Opor


Seperangkat Opor dkk
Setelah selesai makan opor ayam, aku akhirnya sempat bertemu dengan adik tingkaku yag berhasil memperoleh medali emas di acara International Invention and Innovation. Akupun mengantar mereka ke stasiun bus untuk melanjutkan perjalanan mengelelingi beberapa kota di Eropa Timur, sebelum kembali lagi ke Indonesia. Dan yang tak lupa adalah ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk rekan-rekan PPI Polandia atas kesediaannya membantu menjemput dan mengarahkan setiap mahasiswa yang akan datang ke negeri putih merah ini. Salam Perhimpunan!!!
Bersama Mahasiswa UII




Read More
Sudah empat bulan aku tidak memulai lagi untuk menulis. Serasa kaku jemariku untuk merangkai satu atau dua kata. Selama empat bulan lalu aku memilih untuk fokus menyelesaikan kelas bahasa. Mempelajari salah satu bahasa tersulit di dunia, membuatku harus menyisihkan waktu lebih banyak agar dapat menguasainya. Bagian yang tersulit bagiku adalah grammar, dimana perubahan dari satu kata bisa mempunyai lebih dari 20 bentuk.

Hingga pada bulan Juni akhirnya tiba waktu ujian akhir. Pada awalnya aku sempat berpikir apakah aku bisa melewati ujian ini. Ternyata prasangkaku terbukti adanya, dimana aku harus mengulang untuk ujian speaking. Cara pengucapanku yang kurang baik menjadikan penguji mengalami kebingungan tentang apa yang aku ucapkan. Akhirnya pada ujian kedua aku bisa menyelesaikan dengan hasil yang cukup.

Dan diakhir ujian ditutup dengan jalan-jalan untuk sekedar melihat sungai di pinggir kota.


Read More
Mungkin saja aku tidak bisa mengetahui secara langsung apa yang sedang terjadi di negeriku. Jejalan informasi yang ada tidaklah secara langsung menggambarkan apa yang ada sebenarnya. Banyak sekali gincu yang dipoleskan dari berbagai berita yang di jejalkan pada kita. Kemerdekaan dalam berpikir untuk meyakini dan menyaring informasi mana yang benar-benar sesuai dengan realita sangatlah diperlukan.

Dahulu aku sempat berpikir bahwa negeri yang aku tinggali merupakan negeri yang sangat tidak nyaman untuk ditinggali. Aku selalu melihat negara-negara industri yang maju karena perkembangan ilmu pengetahuannya. Tata kota yang rapi, sistem transportasi yang baik serta jaminan sosial pada masyarakat merupakan beberapa kelebihan yang dimiliki negara yang dikatakan maju.

Namun semakin aku mencoba untuk membandingkannya dengan kondisi negeriku, semakin aku merasa bahwa negeriku adalah negeri yang paling nyaman untuk ditinggali. Sebagai gambaran, kita tidak mungkin bisa tidur di luar rumah jika tidak ingin mati kedinginan. Kondisi yang tidak mungkin terjadi di negeriku. Kita bisa berkeliaran tanpa harus takut akan mati kedinginan. Dan berbagai kelebihan yang seharusnya membuat aku menerimanya dengan senang hati ada di negeri ini. Mungkin hanya itu yang ada di kepalaku untuk saat ini dimalam yang sahdu..
Read More
Mungkin aku tidak bisa untuk terlibat secara langsung memberi dukungan atas peristiwa yang menimpa almamaterku tercinta. Muncul perasaan sedih dan kecewa saat peristiwa memilukan ini harus terjadi, adik tingkatku harus menghadap Sang Pencipta dengan cara yang tidak wajar. Disisi lain aku juga geram dengan pemberitaan beberapa media yang tidak berimbang, serta komentar dari berbagai pihak yang tidak mengerti kondisi sebenarnya hanya memperkeruh suasana.

Ditengah gejolak masalah yang menimpa civitas akademika Universitas Islam Indonesia, ada sosok yang memilih untuk bertanggung jawab atas persoalan ini. Beliau adalah ayahanda kami Dr. Ir. Harsoyo M.Sc. Postingan dari salah satu rekanku saat beliau sedang membuka pintu langit di masjid kampus membuatku tak kuasa untuk tidak meneteskan air mata. Sosok yang sangat bersahaja dan tidak menjadikan jabatan ada di hati beliau. Bagi beliau, jabatan hanyalah amanah yang nantinya akan dimintai pertanggungjawaban. Keputusan beliau untuk mengundurkan diri tentulah menjadikan kita kehilangan pemimpin yang sebenar pemimpin. 

Dukungan dari ribuan mahasiswa UII dan tidak sedikit mahasiswa di kampus lain cukuplah menjadi bukti bahwa beliau adalah sosok yang dirindu banyak orang. Darinyalah kita belajar bagaimana seharusnya menjadi pemimpin, mengajarkan kita arti keteladanan ditengah krisis kepemimpinan nasional. 

Adapun untuk rekan-rekan dari MAPALA UNISI, aku percaya jika kalian adalah orang yang mempunyai jiwa ksatria. Mintalah ampun secara langsung didepan keluarga adik tingkat kita dan katakan bahwa kalian siap menerima segala konsekuensi dari peristiwa ini. 


Kampus Perjuangan
Rekan-rekan sekalian, kita patutlah berbangga menjadi bagian dari keluarga besar Universitas Islam Indonesia. Kampus pertama yang didirikan oleh anak bangsa. Tempat yang dipersiapkan untuk mencetak intelektual muslim yang akan menjalankan roda kepemimpinan nasional. Teruslah mengukir berbagai prestasi untuk menunjukkan bahwa kita tidak seperti yang mereka pikirkan. Jadikanlah kampus ini menjadi tempat untuk menyuarakan kebenaran disaat yang lain memilih untuk diam.

Semoga adanya peristiwa ini menjadikan kita mampu merapatkan shaf untuk menghadapi berbagai tantangan kedepannya. Teruskan cita-cita ayahanda kita untuk berusaha memenuhi setiap shaf-shaf masjid di kampus saat seruan adzan berkumandang. Sehingga kita menjadi insan manusia seutuhnya.



Muhammad Ulil Albab
Teknik Industri, 2011
Lower Selisia


Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home