Manusia yang manusia

No Comments
Malam itu bagiku tak berbeda jauh dengan malam sebelumnya. Aku melakukan rutinitas harian yang seperti biasanya. Saat Ku coba mencari untuk menegakkan hidupku, aku memilih tempat yang jauh dari hiruk pikuk manusia. Tempat yang ku pilih karena ingin mengantar sebuah Rizki dari langit, pikir ku.

Ku pesan beberapa makanan yang telah tersaji. Di tengah-tengah aku sedang makan, aku melihat penjual yang menghentikan langkah seorang pengendara sepeda motor. Ia lalu kembali menuju lapak dagangannya dan kemudian mengambil beberapa gorengan yang ada, di bungkus dalam sebuah kantong plastik lalu ia dengan segera menghampiri pengendara sepeda motor tadi dan memberikan gorengan yang ada.

Tidak ada transaksi berupa jual beli, penjual hanya memberi tanpa ada harga yang harus di tebus.

Dari uraian tadi aku sedikit heran, di zaman dimana orang mencari materi hingga rela meminum darah temannya sendiri, di saat orang menabrak-bantal berbagai aturan Tuhan. Ternyata masih ada manusia yang manusia. Dalam artian ia memiliki sifat yang semestinya dimiliki manusia. 

Mungkin saja penjual tadi berpikir, mungkin inilah yang dapat ku lakukan untuk menambah bekalku diperjalanan yang sangat panjang nanti.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 comments

Post a Comment