Masih teringat saat aku pertama kali menapakkan kaki dikota
ini, saat aku masih SMA, aku merasakan kota ini tak terlalu padat dengan lalu
lalang kendaraan. Sepeda motor juga tak sebanyak saat ini, berjalan kaki
dikawasan malioboro juga masih nyaman untuk kondisi saat itu.
Dinamika suatu kota memang suatu hal yang tak bisa dihindari.
Seiring banyaknya pendatang yang ingin tinggal maupun belajar di kota ini
menjadikan kota ini tentunya semakin padat. Pembangunan hotel dan apartemen
yang lebih mengutamakan aspek estetis dengan mengabaikan nilai-nilai kearifan
lokal masyarakat menjadikan kota ini terancam kehilangan nilai-nilai luhur yang
ada. Budaya Jawa yang menjadi ruh dan nafas bagi kota ini sudah semakin sulit
untuk ditemukan terkristalisasi pada penduduk, khususnya para pendatang yang
belum sepenuhnya memahami budaya Jawa yang mengedepankan akan sopan santun dan
keselarasan hidup.
Aku tak menginginkan,
meski nampaknya sudah mulai kearah sana. Kota yang
kaya akan budaya dan
kearifan lokal akan sama saja dengan kota besar di negeri ini. Kota ini selayaknya tetap menjadi tempat yang
dirindukan untuk kembali, kota yang tetap menawarkan kesantunan dan
kesederhanaannya. Serta, kota yang tetap mengajarkan arti hidup yang
sesungguhnya.
Pada akhirnya akankah eksistensi kota ini tetap mampu
mempertahankan identitasnya ataukan akan tergerus dengan budaya luar?
0 comments
Post a Comment