Fariz Munkar? Hehe… ya, nama julukan ini pemberian dari serdadu-
serdadu Koloni Utara. Berawal dari konflik dunia maya antara Fariz
dengan Xxxxx Xxxxx, yang berlangsung cukup “panas” saat itu.
Oh, iye. Kamu nggak perlu nerka-nerka nama sebenarnya di balik simbol
“X” di atas. Nanti bisa terjadi facebook war jilid sekian, yang
berujung pada sidang.
serdadu Koloni Utara. Berawal dari konflik dunia maya antara Fariz
dengan Xxxxx Xxxxx, yang berlangsung cukup “panas” saat itu.
Oh, iye. Kamu nggak perlu nerka-nerka nama sebenarnya di balik simbol
“X” di atas. Nanti bisa terjadi facebook war jilid sekian, yang
berujung pada sidang.
Lain Koloni Utara, lain pula Meko menjuluki lajang HQ yang masa
kecilnya sering pindah domisili tersebut: Mr Pocky-Pocky.
Nggak tau juga kenapa dapet julukan yang sama seperti nama stick
wafer imut itu. Mungkin karena ada hubungannya dengan yel-yel
“aitakatta-aitakatta”. Halah, kakean kode! Manggil Fariz yang
simpel-simpel aja, kayak Mas Momon teriakkan, “Fareees…!”
kecilnya sering pindah domisili tersebut: Mr Pocky-Pocky.
Nggak tau juga kenapa dapet julukan yang sama seperti nama stick
wafer imut itu. Mungkin karena ada hubungannya dengan yel-yel
“aitakatta-aitakatta”. Halah, kakean kode! Manggil Fariz yang
simpel-simpel aja, kayak Mas Momon teriakkan, “Fareees…!”
Sebagai informasi, saya mulai familiar dengan wajah Fares sejak 2009.
Ketika satu tahun bisa tiga kali unjuk rasa, sebanyak itu pulalah
wajahnya saya lihat. Sayangnya, sosok Fares tidak memiliki wajah yang
mampu meninggalkan kesan mendalam bagi lelaki normal seperti saya.
Akibatnya, tak timbul niatan untuk berkenalan, apalagi bermesraan
dengannya (hiiiy…).
Ketika satu tahun bisa tiga kali unjuk rasa, sebanyak itu pulalah
wajahnya saya lihat. Sayangnya, sosok Fares tidak memiliki wajah yang
mampu meninggalkan kesan mendalam bagi lelaki normal seperti saya.
Akibatnya, tak timbul niatan untuk berkenalan, apalagi bermesraan
dengannya (hiiiy…).
Kesempatan pertama kenal lebih dekat dengan Fariz Muzakki-nama di
facebooknya-justru ketika berada dalam satu mobil yang sama, yang
melaju ke Kendal demi menghadiri pesta pernikahan agung KPH
(Kanjeng Prabu Haryo) Pratikno, di saat “kiamat” 2012.
Saya ingat waktu itu Fariz mengaku mual selama perjalanan.
Memang kampungan betul dia itu. Setelahnya, kami jadi sering ngobrol
bersama di bawah atap Ksatrian Miliran Maduretno, di mana Bang Badut
tinggal bersamanya. Diskusi kami berdua bisa mengangkat topik
tentang dunia pergerakan mahasiswa, suka duka dilabeli “aktivis”, juga
kebudayaan yang sedang populer. Ternyata bisa nyambung juga.
facebooknya-justru ketika berada dalam satu mobil yang sama, yang
melaju ke Kendal demi menghadiri pesta pernikahan agung KPH
(Kanjeng Prabu Haryo) Pratikno, di saat “kiamat” 2012.
Saya ingat waktu itu Fariz mengaku mual selama perjalanan.
Memang kampungan betul dia itu. Setelahnya, kami jadi sering ngobrol
bersama di bawah atap Ksatrian Miliran Maduretno, di mana Bang Badut
tinggal bersamanya. Diskusi kami berdua bisa mengangkat topik
tentang dunia pergerakan mahasiswa, suka duka dilabeli “aktivis”, juga
kebudayaan yang sedang populer. Ternyata bisa nyambung juga.
Nah, ngomong-ngomong soal badut, Fariz ini satu dari sedikit orang
(aslinya, sih, tidak ada) yang tertarik bergabung dengan Badut
Brotherhood. Sempat dia melamar lewat saya, yang kemudian saya
bawa request-nya ke dalam Pertemuan Badut Badut (PBB).
Saya jelas ingin memasukkan Fariz yang agak “nyeleneh” ini ke
dalam BB. Akan tetapi, Meko sebagai Badut Nomor 2 tidak setuju.
Alasannya sangat pribadi: tidak suka dengan lelaki penggemar anime.
Sementara Nizar tidak dilibatkan, Mas Momon sebagai Kepala Badut
hanya manggut-manggut sebagai tanda sepakat dengan Meko.
Dua lawan satu. Saya jelas kalah. Tambah merasa kalah ketika tau
sang Kepala Badut disogok udut merek “lingwe” agar bersuara
tidak setuju. Yah, nasibmu, Riz.
Bisa jadi kecewa berat karena lamarannya ditolak, Fariz merasa perlu
melampiaskannya dengan menambah koleksi anime, memproduksi
lolicon, sampai membuat novel islami bergambar. Maka, makin
nampak sajalah bakatnya itu.
(aslinya, sih, tidak ada) yang tertarik bergabung dengan Badut
Brotherhood. Sempat dia melamar lewat saya, yang kemudian saya
bawa request-nya ke dalam Pertemuan Badut Badut (PBB).
Saya jelas ingin memasukkan Fariz yang agak “nyeleneh” ini ke
dalam BB. Akan tetapi, Meko sebagai Badut Nomor 2 tidak setuju.
Alasannya sangat pribadi: tidak suka dengan lelaki penggemar anime.
Sementara Nizar tidak dilibatkan, Mas Momon sebagai Kepala Badut
hanya manggut-manggut sebagai tanda sepakat dengan Meko.
Dua lawan satu. Saya jelas kalah. Tambah merasa kalah ketika tau
sang Kepala Badut disogok udut merek “lingwe” agar bersuara
tidak setuju. Yah, nasibmu, Riz.
Bisa jadi kecewa berat karena lamarannya ditolak, Fariz merasa perlu
melampiaskannya dengan menambah koleksi anime, memproduksi
lolicon, sampai membuat novel islami bergambar. Maka, makin
nampak sajalah bakatnya itu.
Untuk Meko, bolehlah ia berlagak menolak Fariz, dan gemar
mem-bully-nya, hingga seolah Fariz jadi musuh yang mesra.
Namun, pujian pernah dilontarkannya secara tak langsung.
“Fariz itu pinter. Sewaktu mondok di Panatagama, setiap belajar malam
pasti Fariz ngantukan. Tapi setiap ditanya, langsung bisa jawab. Bahkan
pernah disuruh presentasi, penyampaiannya jadi mudah dimengerti,
padahal materinya berat”. Memang, hubungan mereka berdua ini seperti
judul lagunya Chrisye yang Benci Tapi Rindu (emang ada?).
mem-bully-nya, hingga seolah Fariz jadi musuh yang mesra.
Namun, pujian pernah dilontarkannya secara tak langsung.
“Fariz itu pinter. Sewaktu mondok di Panatagama, setiap belajar malam
pasti Fariz ngantukan. Tapi setiap ditanya, langsung bisa jawab. Bahkan
pernah disuruh presentasi, penyampaiannya jadi mudah dimengerti,
padahal materinya berat”. Memang, hubungan mereka berdua ini seperti
judul lagunya Chrisye yang Benci Tapi Rindu (emang ada?).
Nah, kalo soal otaknya yang encer, saya juga mengakui. Hanya saja
kelebihannya sering tertutupi lewat hobinya yang tidak “ideologis”.
Gemar anime, game-game, lagu-lagu, dan segala yang berbau Jepang
(kecuali JAV, mungkin), itulah Fariz sang otaku. Bagi yang beraliran
“aswaja”, jelas gerah dengan ketertarikan Fariz di sektor ini.
Tapi, bagi mereka yang mau belajar melihat “sisi lain” dan menerima
secuil perbedaan, pasti bisa meraih manfaat dari hobinya yang unik
tersebut.
kelebihannya sering tertutupi lewat hobinya yang tidak “ideologis”.
Gemar anime, game-game, lagu-lagu, dan segala yang berbau Jepang
(kecuali JAV, mungkin), itulah Fariz sang otaku. Bagi yang beraliran
“aswaja”, jelas gerah dengan ketertarikan Fariz di sektor ini.
Tapi, bagi mereka yang mau belajar melihat “sisi lain” dan menerima
secuil perbedaan, pasti bisa meraih manfaat dari hobinya yang unik
tersebut.
Koloni Utara merasakannya ketika sedang menguji konsep baru
dari acara yang tak bosannya disebut “pengajian”.
Tentang bagaimana menyampaikan sebuah ide yang berseberangan,
tanpa lantunan ayat Quran, sambil memetik pengetahuan baru dari
yang namanya budaya atau pemikiran asing, peserta nyaman tanpa
merasa sedang digurui, dan diselingi hiburan.
Lalu kami menemukan D’Pojokan, dan Fariz-lah yang mendapat
kehormatan sebagai nara sumber pertama, yang sukses menyampaikan
materi yang benar-benar dikuasai olehnya.
Itu merupakan satu manfaat di balik status otaku-nya.
Sekali lagi, manfaat.
dari acara yang tak bosannya disebut “pengajian”.
Tentang bagaimana menyampaikan sebuah ide yang berseberangan,
tanpa lantunan ayat Quran, sambil memetik pengetahuan baru dari
yang namanya budaya atau pemikiran asing, peserta nyaman tanpa
merasa sedang digurui, dan diselingi hiburan.
Lalu kami menemukan D’Pojokan, dan Fariz-lah yang mendapat
kehormatan sebagai nara sumber pertama, yang sukses menyampaikan
materi yang benar-benar dikuasai olehnya.
Itu merupakan satu manfaat di balik status otaku-nya.
Sekali lagi, manfaat.
Karena itulah, Fariz itu harus diakui sebagai pribadi yang unik.
Dia simbol pluralistis dalam satu tubuh gerakan. Dia layaknya energi
alternatif yang layak ditawarkan ketika energi fosil telah habis dan
orang-orang keburu lari ke kotoran ternak karena buntu akal.
Eksistensi seorang Fariz sekaligus jadi “sentilan” yang menggoyang
dogma selama ini: bahwa berada di bawah satu bendera haruslah
berseragam yang sama, berpotongan rambut yang sama, gaya jalan
dimulai dari kaki kanan dalam hitungan ke-tiga, dan sebagainya,
dan sebagainya.
Dia simbol pluralistis dalam satu tubuh gerakan. Dia layaknya energi
alternatif yang layak ditawarkan ketika energi fosil telah habis dan
orang-orang keburu lari ke kotoran ternak karena buntu akal.
Eksistensi seorang Fariz sekaligus jadi “sentilan” yang menggoyang
dogma selama ini: bahwa berada di bawah satu bendera haruslah
berseragam yang sama, berpotongan rambut yang sama, gaya jalan
dimulai dari kaki kanan dalam hitungan ke-tiga, dan sebagainya,
dan sebagainya.
Huft…
Sebelum Fariz didaftarkan sebagai mahluk langka karena pembahasan
yang kesannya terlalu serius, mari kita berteriak “aitakatta”
bersama-sama. Yak, mulai! Selesai. Jangan lupa istigfar dan
tetap jadi diri sendiri seperti otaku “syariah” yang kuat menerima
tekanan meski dikeroyok sana dan sini.
Sebelum Fariz didaftarkan sebagai mahluk langka karena pembahasan
yang kesannya terlalu serius, mari kita berteriak “aitakatta”
bersama-sama. Yak, mulai! Selesai. Jangan lupa istigfar dan
tetap jadi diri sendiri seperti otaku “syariah” yang kuat menerima
tekanan meski dikeroyok sana dan sini.
“Pocky-Pocky… dua ribu rupiah saja. Neng, Pocky-Pocky-nya, Neng.
Mas, lolicon-nya, Mas…”
Mas, lolicon-nya, Mas…”
0 comments
Post a Comment