Telah lama
rasanya jari ini tak pernah menari diatas papan ketik, entah kenapa ada rasa
yang tiba-tiba ada di benakku. Ya, rasa yang ingin aku ungkapkan lewat sebuah
tulisan ini. Waktu menunjukkan jam 16:37 saat itulah kami saudara dari koloni
utara harus memperluas lingkaran kami, saat mamang harus kembali ke kampung
halamannya. Aku, Fadli, Ikhsan, Baskara dan Fauzan mengantarkan menuju stasiun
pemberhentian bus.
Sebelumnya kami sempatkan untuk mengobrol ringan. Hingga Bus
Rosalia Indah 359 tiba dan harus membawa mamang untuk pergi meninggalkan DIY.
Malam harinya
yakni pukul 19:24 hujan gerimis membasahi wilayah Sleman utara, aku tak tahu
pesan dari langit ini. Ingin rasanya aku menangis, namun apalah daya tangisan
tak harus terekspresi melalui terkesan air mata. Aku mencoba secara perlahan
belajar mengenai indahnya arti manusia, tercipta punya rasa dan akal. Mamang
mengajariku secara tak langsung tentang kehidupan. Tak perlu menggurui kala
mengajari, pengabdian pada Yang Kuasa juga bukan karena takut atau tidak akan
yang telah di konsesikan, namun lebih dari itu menjadi sebuah kebutuhan untuk
memesrai yang punya alam ini.
Baru kali ini
aku merasakan sebuah ikatan persaudaraan yang meski bukan dari saudara kandung
namun ikatan saudara ini seakan lebih dekat dan mesra dibanding saudara kandung
sekalipun. Sebelumnya juga mamang mengajariku untuk memperjalankan iman yang
dimiliki setiap manusia, tanpa adanya sebuah perjalanan hidup rasanya akan
datar dan membosankan. “Lil, kau harus cari jalan sunyimu sendiri, harus ada
yang bisa kau tangisi”, begitulah kira-kira pesan yang disampaikan mamang
padaku. Mamang juga telah mempersaudarakan kami menjadi satu ada Ikhsan, Dimas,
Baskara, Fadli, Suhdi dan Ulil.
Mamang berpesan
bahwa ia takkan rela jika kami harus putus persaudaraan karena perbedaan
tertentu. Aku juga baru sadar bahwa aku hidup di dunia ini memiliki saudara
yang bisa saling mengerti sama lain, hingga akhirnya ada saudara kami yang baru
yakni Fauzan dan Redha. Aku menjadi
paham sekarang bahwa sebenarnya ada lingkaran diriku dan saudaraku lainnya yang
saling bersinggungan, disinilah keunikan yang dapat menjadikan kami saling
memaklumi satu sama lain.
Terima kasih
mamang atas apa yang telah kau berikan kepada kami, biarlah kami susuri jalan
sunyi kami masing-masing. Biarlah kami cari suatu hal yang dapat kami tangisi.
Jalan yang telah ditapaki akan kami lalui dan kami hiasi sekelilingnya dengan
cahaya.
Perkenankan
suatu saat aku akan berjumpa denganmu mamang, terima kasih telah menjadi
kakakku.
Salam Koloni Utara
Sleman Utara
9 Desember 2013, 19:43
0 comments
Post a Comment