Berjalanlah...

No Comments
, biarlah kami susuri jalan sunyi kami masing-masing


Telah lama rasanya jari ini tak pernah menari diatas papan ketik, entah kenapa ada rasa yang tiba-tiba ada di benakku. Ya, rasa yang ingin aku ungkapkan lewat sebuah tulisan ini. Waktu menunjukkan jam 16:37 saat itulah kami saudara dari koloni utara harus memperluas lingkaran kami, saat mamang harus kembali ke kampung halamannya. Aku, Fadli, Ikhsan, Baskara dan Fauzan mengantarkan menuju stasiun pemberhentian bus. 
Sebelumnya kami sempatkan untuk mengobrol ringan. Hingga Bus Rosalia Indah 359 tiba dan harus membawa mamang untuk pergi meninggalkan DIY.
Malam harinya yakni pukul 19:24 hujan gerimis membasahi wilayah Sleman utara, aku tak tahu pesan dari langit ini. Ingin rasanya aku menangis, namun apalah daya tangisan tak harus terekspresi melalui terkesan air mata. Aku mencoba secara perlahan belajar mengenai indahnya arti manusia, tercipta punya rasa dan akal. Mamang mengajariku secara tak langsung tentang kehidupan. Tak perlu menggurui kala mengajari, pengabdian pada Yang Kuasa juga bukan karena takut atau tidak akan yang telah di konsesikan, namun lebih dari itu menjadi sebuah kebutuhan untuk memesrai yang punya alam ini.
Baru kali ini aku merasakan sebuah ikatan persaudaraan yang meski bukan dari saudara kandung namun ikatan saudara ini seakan lebih dekat dan mesra dibanding saudara kandung sekalipun. Sebelumnya juga mamang mengajariku untuk memperjalankan iman yang dimiliki setiap manusia, tanpa adanya sebuah perjalanan hidup rasanya akan datar dan membosankan. “Lil, kau harus cari jalan sunyimu sendiri, harus ada yang bisa kau tangisi”, begitulah kira-kira pesan yang disampaikan mamang padaku. Mamang juga telah mempersaudarakan kami menjadi satu ada Ikhsan, Dimas, Baskara, Fadli, Suhdi dan Ulil.
Mamang berpesan bahwa ia takkan rela jika kami harus putus persaudaraan karena perbedaan tertentu. Aku juga baru sadar bahwa aku hidup di dunia ini memiliki saudara yang bisa saling mengerti sama lain, hingga akhirnya ada saudara kami yang baru yakni Fauzan dan Redha.  Aku menjadi paham sekarang bahwa sebenarnya ada lingkaran diriku dan saudaraku lainnya yang saling bersinggungan, disinilah keunikan yang dapat menjadikan kami saling memaklumi satu sama lain.
Terima kasih mamang atas apa yang telah kau berikan kepada kami, biarlah kami susuri jalan sunyi kami masing-masing. Biarlah kami cari suatu hal yang dapat kami tangisi. Jalan yang telah ditapaki akan kami lalui dan kami hiasi sekelilingnya dengan cahaya.
Perkenankan suatu saat aku akan berjumpa denganmu mamang, terima kasih telah menjadi kakakku.

Salam Koloni Utara
Sleman Utara

9 Desember 2013, 19:43
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 comments

Post a Comment