Secangkir kopi malam ini telah habis menerjang tenggorokan, darinya aku berusaha mengusir senyap dari malam yang begitu pekat. Jangankan bulan, bintangpun enggan untuk menyapa tempat ini. Aku lihat tak ada banyak tanda kehidupan, hanya tumpukan kardus bersusun yang ditinggal penghuninya. Dinginnya malam ditambah dengan angin yang seakan ingin menerkan apapun yang dilaluinya.
Sungguh aku ingin berdiri untuk malam ini, menjaga dalam keheningan malam. Pikiranku masih terbang bebas menabrak dinding-dinding penyekat. Untuk menjadi seorang manusia saja masih belum layak tersemat dalam diri. Arus yang begitu derasnya menyeret siapapun yang enggan untuk ikut atau pada yang tak punya pijakan dalam bertindak. Makna modernisasi telah diperkosa habis hingga hanya segelintir saja yang berhak mengklaimnya.
Kita telah paham bahwa dalam setiap jiwa ada tiga jenis kepemimpinan yang mengendalikan hidup. Kepemimpinan logika mengantar kita pada cara untuk memahami kebenaran, sedangkan kepemimpinan hati mengajarkan kita bahwa dunia tak hanya hitam atau putih. Namun mengajarkan tentang keindahan. Adapun kepemimpinan terakhir adalah kepemimpinan nafsu, yang dapat menyeret kita menuju derajat yang lebih rendah dari makhluk apapun.
Pernah aku diseret angin, mencoba untuk melawannya meski harus jatuh terbentur. Ada banyak tanya yang harus kutemukan jawabnya. Mungkinkah aku mampu membunuh kosong ini, ataukah memang aku hanya ada dalam imaji kekosongan. Penciptaan logika dan rasa menjadi pelengkap paripurna dalam setiap insan. Kala keduanya tidak sanggup berinterferensi, akan ada salah satu yang ingin menjadi pemenang. Apakah logika yang menuntun rasa atau rasa yang akan membunuh logika dan pola pikir kita.
Sungguh aku ingin berdiri untuk malam ini, menjaga dalam keheningan malam. Pikiranku masih terbang bebas menabrak dinding-dinding penyekat. Untuk menjadi seorang manusia saja masih belum layak tersemat dalam diri. Arus yang begitu derasnya menyeret siapapun yang enggan untuk ikut atau pada yang tak punya pijakan dalam bertindak. Makna modernisasi telah diperkosa habis hingga hanya segelintir saja yang berhak mengklaimnya.
Kita telah paham bahwa dalam setiap jiwa ada tiga jenis kepemimpinan yang mengendalikan hidup. Kepemimpinan logika mengantar kita pada cara untuk memahami kebenaran, sedangkan kepemimpinan hati mengajarkan kita bahwa dunia tak hanya hitam atau putih. Namun mengajarkan tentang keindahan. Adapun kepemimpinan terakhir adalah kepemimpinan nafsu, yang dapat menyeret kita menuju derajat yang lebih rendah dari makhluk apapun.
Pernah aku diseret angin, mencoba untuk melawannya meski harus jatuh terbentur. Ada banyak tanya yang harus kutemukan jawabnya. Mungkinkah aku mampu membunuh kosong ini, ataukah memang aku hanya ada dalam imaji kekosongan. Penciptaan logika dan rasa menjadi pelengkap paripurna dalam setiap insan. Kala keduanya tidak sanggup berinterferensi, akan ada salah satu yang ingin menjadi pemenang. Apakah logika yang menuntun rasa atau rasa yang akan membunuh logika dan pola pikir kita.
Sungguh berat saat aku harus bergantung pada ranting semu. Menjaga apa yang telah dibawa dan memastikannya utuh hingga diujung waktu. Sekarang dan selamanya, aku hanya ingin mencumbu logika agar didalamnya aku tak kehilangan makna.
Lower Silesia
Lower Silesia

0 comments
Post a Comment