“jika pandangan akan sebuah pendidikan telah
bergeser, maka bersiaplah kehilangan makna pendidikan yang sebenarnya”
Pada
beberapa waktu yang lalu, sekitar satu minggu sebelum tulisan ini dibuat.
Penulis memiliki kesempatan untuk melihat kondisi rumah penduduk yang dijadikan
tempat tinggal para mahasiswa di sekitaran UII. Penulis mencoba bertanya untuk
mencari tahu berapa harga satu buah kamar untuk saat ini.
Tanpa
disangka, harga sebuah kostan yang ada disekitaran kampus melonjak hingga empat
kali lipat dibandingkan saat penulis masih berada di bangku perkuliahan. Bahkan
tidak sedikit kostan yang mematok tarif hingga menyentuh dua digit. Sebelumnya,
selama menempuh studi penulis mengeluarkan biaya untuk kostan dengan biaya
sekitar 1 hingga 2 juta rupiah per tahunnya.
Penulis
memiliki pandangan bahwa beban orang tua mahasiswa saat ini cenderung semakin
berat. Disamping biaya yang harus dikeluarkan untuk memasuki sebuah universitas
tidaklah sedikit. Masih ditambah lagi dengan biaya untuk mencari tempat tinggal
sementara untuk mahasiswa. Hal ini yang dalam jangka panjang semakin
membuktikan bahwa pendidikan hanya bisa dinikmati segelintir golongan anak
bangsa. Hanya golongan tertentu yang memiliki kemampuan finansial yang dapat
memperoleh pendidikan.
Pada
akhirnya setelah para mahasiswa selesai menyelesaikan studi yang terpikir
pertama kali adalah bagaimana mengembalikan modal yang telah dikeluarkan selama
menempuh studi. Semuanya cenderung pada “self
oriented”. Tidak ada waktu untuk memikirkan bagaimana memberi kesempatan
pada anak bangsa lainnya yang tidak beruntung mengenyam pendidikan.
Penulis
memiliki sebuah gagasan jika mahasiswa baru yang memasuki dunia kampus
diwajibkan untuk berada di asrama mahasiswa. Penulis memiliki keyakinan dengan
dasar keagamaan yang cukup kuat di UII, pihak pengambil kebijakan bisa
merumuskan membuat suatu sistem pembinaan bagi mahasiswa selama menempuh studi.
Adanya asrama untuk mahasiswa selain dapat memberikan kesempatan orang tua
untuk bernafas, pihak kampus juga dapat turut andil dalam mempersiapkan calon
kader pemimpin bangsa.
Lingkungan
yang mendukung tentunya sangat dibutuhkan di era persaingan dan kebebsan yang
tanpa batas seperti saat ini. Alangkah indahnya jika kecerdasan intelektual
diselaraskan dengan pemahaman yang benar akan agama.
Semoga
ide yang sederhana ini dapat berkontribusi untuk mengembalikan makna dari
pendidikan itu sendiri.
0 comments
Post a Comment